Hujan mengguyur kota ketika Arga, 25 tahun, tiba di rumah setelah tiga bulan bekerja di luar kota. Ia membayangkan malam yang tenang bersama ayahnya. Namun, semuanya berubah ketika seorang perempuan asing membukakan pintu.
Perempuan itu mengenakan gaun satin merah marun yang sederhana, dengan rambut hitam tergerai dan tatapan yang sulit diartikan.
“Kamu Arga?” tanyanya sambil tersenyum.
Arga mengangguk.
“Aku Laras. Istri baru ayahmu.”
Arga terdiam. Ia tidak menyangka ayahnya menikah lagi tanpa memberitahunya secara langsung.
Dari ruang tengah, Pak Surya memanggil mereka dengan wajah bahagia. “Ayo masuk. Kalian harus mulai saling mengenal.”
Sepanjang makan malam, Arga berusaha bersikap biasa. Namun, ada sesuatu pada Laras yang membuatnya sulit mengabaikan kehadiran perempuan itu. Bukan hanya karena penampilannya, melainkan karena sikapnya yang tenang, seolah ia menyimpan cerita yang tidak ingin diketahui siapa pun.
“Kamu selalu diam seperti ini?” tanya Laras ketika ayah Arga meninggalkan meja untuk menerima telepon.
“Tidak. Aku hanya belum terbiasa punya anggota keluarga baru.”
Laras menatapnya sejenak. “Kalau begitu, semoga suatu hari nanti kamu merasa nyaman denganku.”
Senyumnya membuat Arga bertanya-tanya: apakah perempuan itu benar-benar tulus, atau sedang berusaha mendapatkan kepercayaan keluarga ini?
***
Menjelang tengah malam, Arga terbangun karena mendengar suara dari lantai atas. Saat melewati lorong, ia melihat pintu kamar Laras terbuka sedikit.
Cahaya lampu berwarna keemasan jatuh ke lantai.
“Aku sudah melakukan semuanya seperti yang kamu minta,” terdengar suara Laras dari dalam kamar. “Tapi aku tidak bisa terus berbohong kepada Surya.”
Arga berhenti.
Suara laki-laki menjawab dari balik pintu.
“Kalau dia mengetahui kebenarannya, semuanya akan berakhir.”
Arga hendak mendekat ketika pintu tiba-tiba terbuka.