Setelah kegiatan makan siang di antara Reza dan Dina selesai, sang istri memutuskan untuk pulang dan berlalu keluar dari ruang kerja dari suami yang sangat dihormatinya itu.
Dengan rasa lega yang tampak dari senyuman merekah di bibirnya, Dina berujar dalam hati, "Aku yakin kalau Mas Reza bukan tipikal laki-laki yang mudah bosan dan akan mencari hiburan di luar sana. Dia tidak sama seperti laki-laki hidung belang yang tak bermoral."
Saat dirinya telah keluar dari gedung perusahaan, Dina melangkah menuju parkiran tempat mobilnya diparkir. Tanpa berlama-lama, ia segera memasuki kendaraan roda empat dan memutuskan untuk kembali ke rumah yang disinggahinya bersama Reza.
Perjalanan yang memakan waktu setengah jam itu membuat Dina tiba di tujuan pada pukul 13.45. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi rumah, wanita dengan pikiran dan pribadi yang positif itu membereskan peralatan masak dan mencuci piring.
Dengan sedikit rasa lelah dan penat yang mulai menghampiri, ia juga mulai mengurus pesanan yang masuk dari toko online miliknya yang bergerak di bidang Custom Cake itu. Bersama dengan kesibukan, perhatian dan pikiran Dina tentang Reza pun teralihkan. Bahkan, ia juga mulai membuat sejumlah pesanan kue yang akan dikirim keesokan harinya.
-**-
Waktu terus bergulir. Langit yang semula ditemani oleh sinar matahari menghangatkan berangsur berubah menjadi langit hitam yang bertahtakan gemintang.
Kala itu, waktu menunjukkan pukul 17.30, saat bagi para pekerja kantor dan petingginya pulang dan melepas rasa lelah dengan mampir di kedai kopi terdekat atau hanya sekadar mencari makanan ringan untuk mengisi perut yang didera rasa lapar. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Reza dan Naffa.
Dua insan dengan status strata sosial yang berbeda itu memutuskan pulang bersama dengan menggunakan mobil pajero milik Reza. Sebelum mereka melajukan mobil menuju hotel terdekat, Reza terlebih dahulu mengirim pesan pada Dina. Ia menyatakan jika dirinya mungkin pulang larut dikarenakan adanya tambahan kerja lembur yang wajib diselesaikan.
Setelahnya, tanpa basa-basi, Reza pun melajukan mobil hitam kesayangannya itu sembari bertukar kata dengan Naffa, sekretaris sekaligus selingkuhan yang menurutnya jauh lebih menarik dan memahami dirinya dibanding Dina, sang istri sah.
Sekitar dua puluh menit kemudian, dua insan tanpa status resmi itu tiba di gedung apartemen yang dibeli oleh Reza dua bulan lalu tanpa sepengetahuan istrinya.
"TING.." Pintu elevator yang membawa keduanya terbuka, mempersilakan mereka untuk keluar mengingat balok tersebut sudah mendarat di lantai yang dituju.