Dina Pov
"Mohon ditunggu pesanannya, Mas, Mbak," ucap waitress yang melayaniku dan Mas Reza dengan senyum ramah. Sebelum ia berlalu, ia menempelkan struk berisikan daftar menu yang sudah dipesan pada pojok kanan meja.
Setelah pelayan muda itu berlalu, Mas Reza menyisir pandang ke sekitar. Mimik wajahnya yang tadinya terlihat tegang kini berubah lebih rileks. Tentu, hal itu sangat berbanding terbalik, terutama saat beberapa menit lalu sekretarisnya muncul dan menyapa diriku dan dirinya.
Dari sana lah, beberapa asumsi kembali bermunculan di kepalaku tentang Mas Reza dan sekretarisnya di kantor. Pertama, jika memang mereka hanya bertindak sebagai partner kerja, semestinya tak ada masablah jika bertemu di luar kantor dan menyapa, selayaknya teman. Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh suamiku itu lebih ke arah jika dirinya canggung dan panik. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mas Reza dariku?
Kedua, apa mungkin Mas Reza merasa kurang nyaman dengan kehadiran sekretaris yang sudah bekerja dengannya selama dua tahun itu? Kalau memang seperti itu masalahnya, kenapa dia masih membiarkan Naffa berada pada posisi yang sama? Semestinya, Mas Reza bisa saja memberhentikan Naffa dan mencari sekretaris baru yang mungkin lebih cekatan dan handal.
Di kala diriku tenggelam dengan asumsi-asumsi tersebut, suara Mas Reza membuyarkan lamunanku, "Din? Kamu lagi mikirin apa? Serius banget."
"Oh, aku cuman bingung aja sama reaksimu yang panik tadi waktu Naffa nyapa kamu." Aku mengutarakan apa yang ada dalam pikiran dan hatiku langsung. Seketika itu, aku mendapati suamiku langsung meraih kedua tanganku dan tersenyum manis.
"Oh yang tadi? Mas cuman keinget kejadian beberapa hari lalu. Dia bikin risih." Mas Reza memberikan alasan yang menggantung, membuat diriku kembali bertanya.
"Bikin risih gimana?" Aku menekan nada bicaraku sembari memicingkan kedua mata.
"Iya, aku sempat minta dia buat bikin kopi item 'kan. Terus, habis kopinya jadi, dia bukan taruh langsung di meja kerjaku, malah disodorin gitu. Aku yang lagi sibuk buat milahin dokumen di masing-masing folder, engga sengaja nyenggol, dan kopinya tumpah. Udah gitu, dia masih mau bersihin kopi di baju dan celanaku. Asli bikin risih dan ngeselin banget!" Mas Reza mengutarakan curahan hatinya dengan ekspresi wajah kesal yang terlihat natural.
Aku pun berkomentar, "Yah, mungkin dia engga sengaja. Udah, jangan terlalu diinget, Mas. Namanya manusia, pasti ada salahnya."
"Tapi, kalau dia melakukan hal yang sama lain kali, aku kasih surat peringatan langsung!" Mas Reza masih merasa kurang senang, seolah kejadian itu sudah berulang kali dialaminya.
Aku kembali menenangkan laki-laki dihadapanku ini dengan menggenggam tangannya dan berkata, "Jangan terlalu galak atau keras kepala juga, nanti kalau pegawaimu mengundurkan diri semua, kamu juga yang kerepotan. Udah, dijalanin aja, yang penting dia mau belajar dan memperbaiki diri."
End of pov
-**-
Di kala kedua insan itu sedang berbincang, pesanan-pesanan yang dibawa oleh pelayan laki-laki berusia di atas dua puluh tahunan tiba. "Permisi, ini pesanannya ya, Mbak, Mas," ujarnya dengan senyum simpul sembari meletakkan dua piring steak tenderloin dan dua gelas es lemon tea.
"Semua pesanannya sudah lengkap ya," sambung sang pelayan sambil mencoret struk yang menampilkan tulisan menu-menu pesanan.
"Iya. Ini tipsnya," ujar Dina dengan selembar uang bernilai sepuluh ribu yang diserahkan pada pelayan laki-laki itu.
Dalam hitungan detik, setelah mengucapkan terima kasih dan tersenyum, pelayan itu berlalu dari hadapan Dina dan juga Reza. Di saat itu juga, pasangan suami istri itu mulai menikmati kudapan yang masih hangat dan beraroma lezat dengan sedikit berbincang.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Reza membayar semua total makanan dan minuman pada kasir yang terletak di bagian tengah ruangan. Sedangkan, Dina memilih untuk menanti di meja dan tanpa sengaja melihat ponsel suaminya tertinggal.