Reza Pov
"Aku berangkat dulu ya, Din," ucapku sambil mendaratkan kecupan lembut pada kening istriku.
"Hati-hati di jalan ya, Mas." Dina berpesan sambil melambaikan tangan kanannya padaku dengan senyum manis terurai pada bibir merahnya.
"Oh iya. Nanti, kamu mau dibawain apa?" Aku yang belum beranjak pergi dari hadapannya menawarkan sesuatu hal yang mungkin saja diperlukan. Meski ini hanya inisiatifku yang impulsif, hal ini juga merupakan saran yang aku dapat dari Defan untuk berlaku manis dan romantis pada istri sahku.
"Apa ya?" Dina menatap dengan kening berkerut dan mulai berpikir.
"Mie jawa atau mungkin camilan manis?" Aku memberikan pilihan untuk mempermudah dirinya dalam memutuskan akan membeli makanan atau sekadar makanan kecil.
"Kalau martabak telur aja gimana?" Dina mulai memutuskan pilihannya dengan binar yang terpancar dari kedua mata bulatnya yang indah.
"Wah, boleh banget. Itu kesukaan, Mas." Aku menjentikkan ibu jari dan jari telunjukku secara bersamaan dengan senyuman.
"Oke. Bilang sama tukang martabaknya, banyakkin daun bawangnya ya." Dina menambahkan.
"Siap, Ibu." Aku menanggapi dengan senyum miring dan mulai memasuki mobil serta duduk di belakang kemudi.
Tanpa membuang waktu lebih lama, aku melajukan mobilku dan berlalu melewati rumah-rumah tingkat dua yang beberapa dari penghuninya juga mulai bersiap untuk bekerja.
-**-
Sesampainya di kantor, aku langsung memasuki elevator dan menekan tombol nomor tiga, lantai di mana ruang kerjaku bertempat. Di kala diriku baru memasuki ruangan dan duduk di balik meja kerja, aku mendengar ketukan pada pintu ruangan secara perlahan, "TOKK..TOOKK.."
"Masuk," ucapku singkat sambil menatap pintu tersebut mulai terbuka dan menampakkan sosok wanita dengan mimik wajah merengut menatapku.
"Ada apa, Naff?" Aku kembali bersuara dan berdiri dari posisi duduk saat wanita itu mulai menghampiriku.
Lalu, ia menanggapi, "Bapak ternyata jago akting ya."
Bersama dengan tanggapannya itu, Naffa menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan sinis tertuju padaku. "Akting apa? Aku engga ngerti." Aku memicingkan kedua mata sambil mencerna maksud dari ucapan Naffa.
"Kemarin? Bapak lupa?" Naffa mulai menyebutkan kata kunci yang membuat ingatan tentang makan malam bersama Dina muncul dalam benak ini.
"Oh, yang itu." Aku mengangguk pelan dan menatap Naffa dengan senyum kecil tersemat. Lalu, aku melanjutkan, "Aku kaget waktu itu. Engga habis pikir aja kalau kita bakalan ketemu di Tenderlova secara kebetulan."
Bersama dengan ucapanku itu, aku meraih kedua tangan Naffa dan mengusapnya lembut. Kemudian, wanita berparas manis di hadapanku ini kembali melemparkan komentar dengan air muka masam, "Bapak kelihatan mesra banget sama Bu Dina. Beda, waktu lihat aku kemarin, udah berasa kaya orang lain."
"Maaf, Naf. Aku bukannya engga anggap kamu." Aku langsung membujuk Naffa sebelum suasana hatinya semakin memburuk.
Naffa masih menampakkan ekspresi wajah masam padaku dan berkata, "Dengan mudahnya bapak minta maaf. Padahal, kemarin aku dibakar api cemburu lho."
Lalu, aku langsung memberikan pelukan pada Naffa dan menanggapi, "Ya, kamu tahu 'kan. Dina itu istri sahku. Aku engga mungkin mesraan sama kamu di depan dia."