Di Balik Senja

Kepo Amat
Chapter #9

Pembebat Luka

Setelah kelas pagi berakhir, aku menuju ke salah satu gedung kampus untuk mengikuti rapat yang akan membahas kegiatan BEM tahunan di bulan ini.

Aku berjalan dengan langkah gontai, mencoba untuk berjalan normal seperti biasanya tetapi terasa semakin membuat kakiku ngilu.

Sebenarnya, hari ini aku malas untuk datang ke kampus dengan badan yang terlihat babak belur seperti ini. Tadi pagi saja, waktu aku berkaca di depan cermin masih terlihat dengan jelas noda ungu kebiruan yang menghiasi dagu dan pelipisku. Belum lagi nyeri di sekujur badanku yang tertutupi kemeja lengan panjang berwarna krem dan celana panjang berbahan denim yang kupakai sekarang.

Hanya ada satu keanehan yang kini membuatku kesal. Jarak antara gedung Fisip dengan gedung rapat tidaklah terlalu jauh, tetapi mengapa di saat seperti ini seolah jauh seakan menyusuri padang pasir? Ditambah lagi beberapa pasang mata yang terus menatapku di sepanjang jalan sambil bergumam, "Kenapa dia? Apa dia habis berantem? Enggak punya moral!"

Aku hanya mengabaikan para perempuan itu dan terus berjalan ke depan. Memang terkadang orang lain menilai dari apa yang mereka pandang sesaat, bukan dengan pengenalan intens yang berjarak waktu cukup lama.

"Dev!" seorang perempuan terlihat melambaikan tangan lalu berlari pelan menghampiriku.

Aku membalas lambaian tangannya. "Yoo ...."

Perempuan itu berkacak pinggang. "Weh, Dev, kau mau ke rapat BEM juga?" tanyanya.

"Iya nih, Vin."

"Yaudah barengan aja, Dev, aku juga mau ke sana," ucapnya dengan tersenyum bersahabat. "Padahal aku ini ada kelas, Ya Allah ... titip absen lagi kan kalo gini!" keluhnya dengan sesekali menata hijabnya yang terlihat agak berantakan.

"Iya, enggak papa. Tapi jaga jarak, ya, Vin," balasku. "Kamu sih bolos mulu, Vin. Kapan kau wisudanya? Bosen kali aku lihat kau terus di sini," kelakarku.

"Bukannya gitu, Dev! Tapi emang aku tuh sibuk, belum juga ngurusin urusan yang di rumah. Capek aku!" kesal Vina dengan menghentakkan kaki.

Aku membalas keluhannya dengan tertawa seakan mengejek nasibnya yang malang. Setelahnya, hanya candaan dan ejekan ringan yang terlontar di antara kami.

"Kamu pikir aku juga enggak bosen apa Dev, lihat tampangmu yang kayak biawak kecebur got itu!" celanya dengan memasang wajah seolah jijik.

"Weh, jangan bawa-bawa biawak ya kau, Vin!" sungutku.

Aku dan Vina kemudian langsung menuju ke tempat rapat. Di sepanjang jalan Vina terus menanyai wajahku yang memar ini. Aku hanya bisa menjawab, "Biasa urusan cowok." Atau enggak. "Kemarin malam aku mimpi digebuk setan, eh ... bangun-bangun udah kayak gini aja. Damage mimpinya beneran kerasa!"

Pokoknya aku terus memungkiri pertanyaannya itu. Tak mungkin aku menceritakan masalah keluargaku kepada orang lain. Walaupun, aku telah menganggap Vina seperti kakak perempuanku sendiri.

Vina adalah kakak tingkatku yang kini sudah semester lima, tetapi dia lebih tua tujuh tahun dariku. Usianya kini akan menginjak 26 tahun. Dia juga orang pertama yang kutemui waktu hari pertama aku kuliah di sini.

Aku menarik gagang pintu ke samping, mempersilakan Vina untuk masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu lalu menyusulnya dari belakang. Terlihat ada sekitar dua puluh orang tengah duduk rapi menunggu rapat hari ini dimulai.

Aku langsung duduk di sebelah Aldo saat melihat bangku di sampingnya kosong.

"Lama kau! Kirain kau enggak datang. Udah si Farad kagak masuk, kau juga mau ikut-ikutan lagi, terus aku sendirian deh ditemenin si Rafa entar!" protes Aldo dengan memasang tampang kesal.

Lihat selengkapnya