Di Balik Senja

Kepo Amat
Chapter #10

Menjenguk Sang Kawan

"Ayo, Lin, kita ke kelas!" seru Fira yang tiba-tiba muncul dengan Salma dan Nabila di sampingnya, membuat Aku dan Olin menghentikan percakapan kita.

Olin mengangguk, lalu berkata kepadaku, "Dev, gue balik ke kampus duluan, ya. Tadi itu sebenarnya gue ke sini sama mereka bertiga mau survei lapangan tentang penduduk sekitar sini, tapi ditinggalin sama mereka! Jahat, kan?" sewot Olin memanyunkan bibir membuat teman-temannya tertawa.

Olin dan ketiga temannya akhirnya pamit, dari kejauhan masih terdengar percakapan mereka.

"Kita itu enggak ninggalin kamu, kok, Lin. Kan tadi aku udah bilang, kamu survei hewan laut aja ... ajak mereka bicara, gitu."

"Tuh, kan, emang beneran jahat kalian! Entar kalo aku tenggelam gimana?"

"Ya habisnya gimana lagi, nanti kalau kamu yang ngurusin data-qqdatanya malah kita harus mengerjakan ulang lagi, hahaha ...."

"Ih, kalian! Kan tahu sendiri, aku enggak pintar soal hitung-hitungan!"

"Nah, makanya."

"Umm ... Lin, terus kenapa kamu ngambil jurusan psikologi?"

"Ya mana kutahu, kirain jurusan psikologi itu cuma baca pikiran orang. Ternyata ada rumus hitung-hitungannya! Jangankan mengerjakan ini, disuruh ngerjain pelajarannya anak SD yang soal pecahan sama bangun datar aja aku enggak bisa! Anggap saja aku salah jurusanlah ...."

Entah mengapa waktu aku mendengarnya rasanya lucu sekali. Dari awal aku mengenal Olin, dia memang sangat payah dalam mata pelajaran matematika.

Tak lama setelah Olin dan teman-temannya pergi, aku kembali ke kampus untuk mengikuti kelas berikutnya.

Pukul empat sore, aku, Aldo, dan Vina telah berkumpul di parkiran kampus untuk menuju ke rumah Farad.

Terlihat Olin dan Fira celingak-celinguk di luar parkiran seperti sedang mencari seseorang. Beberapa saat, pandanganku dan Olin bertemu. Olin melemparkan senyum lalu menarik tangan Fira untuk masuk ke dalam parkiran. Aku cukup terkejut jika yang Olin cari adalah aku.

"Dev, lu lihat kak Farad, enggak?" tanyanya sambil berdiri di sela-sela motor yang terparkir.

"Hah?" mulutku ternganga, ternyata Olin mencari Farad. Baru saja aku merasa terlalu pede. Emang aku siapa harus dicari-cari oleh Olin?

"Enggak tahu, dia udah empat hari ini enggak masuk, Lin. Ini kita mau jengukin dia ke rumahnya," sambungku dengan cepat.

"Iya, tapi kita lagi bingung mau bawain apaan. Masalahnya kita juga enggak tahu dia kenapa," sahut Aldo yang bertengger pada motor Vespa miliknya. "Emang ada perlu apa kalian sama si Farad?" tanyanya.

Olin mengeluarkan sebuah buku paket dan modul tebal Sekolah Menengah Atas dari dalam tas coklatnya. "Ini ... aku mau ngembaliin buku matematika punya adiknya kak Farad," jawab Olin malu-malu dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua buku itu.

Lihat selengkapnya