Aku duduk termenung dengan mengangkat kedua kaki di kursi, kedua tanganku memeluk lutut sembari terus mengamati Aldo yang sibuk berkutat dengan ponselnya.
Saat ini aku dan Aldo masih berada di rumah Farad. Sementara Vina, Olin, dan yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu. Mereka hanya sekitar 15 menitan di sini. Walaupun begitu, kami sempat foto-foto bersama dan bercanda-canda.
Entah mengapa rasanya aku kembali tak bersemangat bahkan untuk sekalipun bermain ponsel. Beberapa kali ponselku bergetar, tapi hanya kuabaikan. Toh, tidak ada pesan yang penting di dalamnya.
"Pada diam aja kalian! Nih, minum dulu. Entar kalau lapar makan aja, mamak aku udah siapin mie atjeh di depan," ujar Farad yang masuk ke dalam kamar sembari menyodorkan segelas es kopi padaku dan Aldo.
Aku merubah posisi dudukku lalu meneguk es kopi itu hingga tersisa setengah. Kesegaran kopi untuk sejenak membuatku kembali bersemangat. Faktanya, aku memang tengah haus karena tadi saat di perjalanan harus berdebat dan menjelaskan seluk-beluk daerah Aceh kepada Olin. Belum lagi saat tiba di rumah Farad harus kembali berdebat dengan Vina dan Aldo tentang sakit yang diderita Farad.
"Kenapa kau ngasih minumannya baru sekarang? Padahal kita udah di sini hampir setengah jam, loh," ujarku.
"Ya maaf, soalnya kan aku harus beli es batu dulu, kupi dulu. Lagi pula korang tadi yang nahan aku biar nanti aja belinya. Eh ... keburu anak-anak cewek pada pulang, kan," balasnya seakan menyalahkan kami.
Mendengar pembicaraan kami, Aldo yang semula fokus dengan ponselnya pun langsung ikut menimbrung. "Heh! Kau itu banyak alasan. Bilang aja emang biar hemat, iya, kan!" tukas Aldo.
"Ya Allah ... aku berdosa apa sampai-sampai difitnah macam ini?" ucap Farad mendramatisir, membuatku menahan tawa. "Emang nasib cowok ganteng, langka, baik hati selalu gini, ya," lanjutnya seolah meratapi nasibnya yang beruntung.
Aku dan Aldo hanya diam, tak minat untuk merespon perkataan Farad.
"Tuh, pada diam lagi! Kayaknya emang kalian diam-diam pada punya dendam ya sama aku!" seru Farad yang merasa diabaikan.
Aku melirik Farad malas. Tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang ucapan Olin tadi. "Eh, Rad, emang adik lu udah SMA?"
Farad terlihat berpikir sejenak, bola matanya ia putar ke samping kiri. "Adikku yang paling tua kan si Niswah, dia masih SMP. Katanya teman kok kagak tahu. Payah kau!" balasnya datar.
"Itu masalahnya, kenapa tadi waktu kita mau ke sini si Olin itu bilang kalau dia pinjam bukunya adik kau," timpal Aldo.
"Oh, itu ... buku ini?" Farad mengambil dua buah buku ukuran besar di atas meja belajarnya. Aku dan Aldo langsung mengangguk serempak. "Ini buku aku tapi aku bilang ke dia kalau milik adik aku," lanjutnya dengan enteng.
"Sebab?" tanyaku.
"Kayaknya nilai matematikanya si Olin kurang gitu, deh. Jadi, aku pinjamkan saja bukuku waktu di SMA dulu. Terus takutnya dia enggak mau nerima akhirnya aku bilang kalau itu bukunya Niswah," jelas Farad.
"Oh, gitu ... emang berat, ya, di jurusan Psikologi. Banyak matematikanya ternyata," kata Aldo.
Aku menenggak habis es kopi pemberian Farad tadi, lalu berkata, "Emmm ... aku setuju, dari SMA Olin emang enggak terlalu berbakat di ilmu hitung-hitungan, tapi kok dia malah milih di Psikologi, sih? Kenapa enggak milih Bahasa kek, Komunikasi kek, atau Sosiologi? Eh, padahal bagus loh, nilai Sosiologi dia."