Di Balik Senja

Kepo Amat
Chapter #12

Menjauh

Aku semakin bingung dengan situasi ini. Wait! Apa Olin salah paham?

Aku memijat pangkal hidung, lalu berucap, "Bukan gitu, Lin, maksud gue. Lu salah paham! Terus kenapa bawa-bawa si Vina juga, sih?"

"Elu yang nyangkut-pautin Vina duluan!" serunya masih dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.

Aku menggeleng. "Gue enggak bermaksud nyangkut-pautin si Vina, gue cuma bilang kalo ...." Olin memutus perkataanku.

"Jelas-jelas lu yang nyangkut-nyangkutin dia duluan. Lu pikir lu siapa, sih? Bisa nyakitin perasaan perempuan dengan mudah. Lu emang beda! Lu beneran bukan lagi Dev yang gue kenal!" potongnya dengan menekankan seluruh kalimatnya.

Aku berdecak kesal. Kesabaranku sudah diambang batasnya. Perkataannya yang bercampur emosi selalu berhasil mengiris dadaku. Ya, memangnya aku siapa? Aku memang bukan siapa-siapa. Aku juga tak pernah sekalipun berniat untuk mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin, kepercayaan Olin memang telah hilang. Biarkan saja dia menganggapku seperti apa, aku juga sudah tak peduli.

"Cukup, Lin! Dari awal gue udah pernah bilang, kan, sama lu kalau kita memang sudah beda. Bisa enggak sih lu dewasa dikit?" ucapku dengan nada agak meninggi.

Aku menghela napas panjang. Salah satu sisi yang tak pernah aku sukai dari perempuan. Mereka terlalu naif, manja, egois, dan merasa memiliki. Padahal kalau dipertegas, dia juga bukan siapa-siapaku. Kami tidak pacaran dan juga tak pernah saling mengatakan akan serius. Akan tetapi, aku juga tak ada niat sedikitpun mempermainkannya.

Tangis Olin kali ini sudah mereda. Namun, sorot mata kebencian bercampur amarah masih terpampang jelas di wajahnya. "Lu beda! Lu udah berubah!" serunya.

Aku menarik napas panjang sembari mencoba mendinginkan pikiranku kembali. "Gue ... gue pakai aku-kamu aja, ya, biar enak," ucapku.

Entah mengapa rasanya jadi kaku saat memakai logat kota. Lebih baiknya memang kita dari awal memakai kata 'aku-kamu' seperti teman-teman lainnya. Lagipula, hanya aku dan Olin di lingkup kita yang memakai kata 'lu-gue'. Ya, tentunya karena pengaruh kota.

"Aku bingung dan sudah kehabisan kata buat menanggapi kamu. Aku dari tadi udah berusaha ngejelasin semuanya tapi kamu tetap enggak percaya ... terserah kamu aja mau menilaiku seperti apa. Enggak ada gunanya juga kita berdebat kayak gini. Malahan cuma bikin kamu nangis doang, kan?"

Aku menghentikan ucapanku sejenak, menatap wajah Olin yang hanya diam terpaku tanpa sepatah kata.

"Dan kamu juga masih lihat aku dari satu sisi. Masalahku itu banyak, bukan cuma kamu! Mulai dari keluargaku, kuliahku, kerja paruh waktuku ... semua bikin aku tambah pusing. Bukannya aku ngeluh, tapi ini juga manusiawi. Aku enggak bisa menyelesaikannya secara bersamaan karena harus ada yang diprioritaskan terlebih dahulu, tapi kamu emang enggak pernah bisa mengerti!"

Air mata Olin turun lagi membuatku tak tega melihatnya. Gadis itu berusaha terlihat tegar, ia terus menyeka air matanya.

"Gu ... gue benci sama lu!" ucapnya tertahan-tahan.

Aku mengangguk pelan. "Sagalak-galak kah mantong. Mandum salah lon. Lon jak mantong lon hana peureule le keu kah. Memang lon hantom beutôi bak mata awak droen. (Sesuka-sukamu saja. Semua itu salahku. Aku pergi dan aku enggak peduli lagi sama kamu. Lagipula emang aku enggak pernah terlihat benar di mata semua orang.)"

"Dev, aku ora ngerti koe ngomong opo. Saget diterjemahaken riyen? (Dev, aku tidak paham kamu bicara apa. Bisa diterjemahkan dulu?)" katanya yang langsung membuatku terdiam. "Galak-suka, lon-aku, kah-kamu, keu-sama, mantong, mandum, apaan?"

Aku tidak tahu Olin bilang apa. Kemungkinan dia masih tidak mengerti yang kuucapkan karena aku memang sengaja mengatakannya dalam bahasa Aceh agar tidak terlalu kasar didengarnya.

Lihat selengkapnya