Terik matahari tertutupi gumpalan awan pekat, rintik hujan turun membasahi aspal panas dalam sekejap. Cuaca cerah berubah menjadi dingin dengan kilatan guntur yang saling bersahutan lalu meninggalkan bekas genangan air di celah jalanan yang berlubang.
Aku berteduh di sebuah kedai kopi yang tempatnya tak jauh dari area luar kampus sembari menyesap secangkir kopi tarik untuk menghangatkan tubuh. Hujan turun semakin deras, menghantam bumi bertubi-tubi dengan air kehidupannya.
Dengan cepat pikiranku pun teralihkan oleh sosok Olin. Entah bagaimana dia sekarang, sudah beberapa hari pula aku dan dia saling diam. Seperti saat kami berpapasan, bertemu di kantin, dan satu ruangan di rapat BEM, kami seperti orang yang tak saling mengenal. Olin juga terlihat sedang dekat dengan Rafa akhir-akhir ini.
Aku mengacak rambut kasar, segera sadar dari lamunan tentang gadis itu. Untuk sekarang aku tidak ingin terlalu jauh memikirkannya dan kualihkan kekesalan ini dengan mengutuki hujan.
Benar kata orang, hujan itu bagaikan kaca indah yang tergores dengan kenangan. Entah itu kenangan bersama di musim hujan, kepedihan yang selalu muncul saat waktu lenggang, maupun keinginan untuk mengulang atau memperbaiki masa itu. Ternyata memang di sisi lain hujan itu bisa menjadi kejam.
Aku menggelengkan kepala lalu kembali menyesap kopi secara perlahan, menikmati aroma kehangatan yang diberikannya. Ada-ada saja pikiranku yang menzalimi hujan ini.
Aku mengedarkan pandangan ke jalan raya. Hujan masih turun dengan deras, angin bertiup kencang menggoyangkan ranting dan dedaunan pohon-pohon besar. Terlihat seorang perempuan berhijab berjalan menunduk di tengah hujan yang lebat ini. Sesekali ia berhenti dengan terus memeluk kedua lengannya erat-erat seakan ketakutan.
Aku menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas siapa gadis itu tetapi tetap tak bisa mengenalinya. Aku menelusuri pakaian yang digunakannya, sepertinya tidak asing dengan cara berpakaiannya yang bisa dibilang agak tomboi dengan kaus army lengan panjang dan celana panjang bertali.
Tidak salah lagi. Aku langsung berlari ke arahnya saat sudah yakin mengenali perempuan itu, kemudian menyuruhnya untuk berteduh di kedai kopi dan tak lupa memesankan satu gelas teh hangat tawar untuknya. Tidak ada protes yang diberikannya, ia hanya mengangguk tanpa berkata apapun.
Tubuhnya terlihat begitu gemetar. Kedua tangannya mencengkeram kuat kursi kayu yang sedang didudukinya. Sekujur badannya basah kuyup. Pandangannya terus ia tundukkan hingga membuatku keheranan. Vina terlihat berbeda dari sikapnya yang selalu ingin dilihat kuat, pemberani, dan dewasa. Kali ini, dia justru lebih terlihat seperti anak-anak yang takut dengan air hujan.
Aku tak bisa mengatakan atau menanyainya sampai suasana hatinya tenang dahulu. Saat kurasa dia sudah membaik, aku baru menanyainya.