Di Balik Senja

Kepo Amat
Chapter #14

Kehidupan Aldo

"Oke, hari ini kita mulai rapatnya." Suara Rafa terdengar menggema menangkap seluruh udara di dalam ruangan. "Jadi, bulan depan bersamaan dengan HUT universitas, kita akan mengadakan pentas seni."

"Langsung saja, kita ke sesi diskusi berdasarkan kelompok masing-masing yang telah dibagikan panitia pada minggu lalu," tegas Rafa menginterupsi, dengan cepat seisi ruangan duduk berlingkar membentuk tujuh pasang kelompok yang berisikan delapan hingga sembilan orang di setiap kelompoknya.

"Weh! Aku sama siapa ini?" seru Farad celingukan, berharap ada yang membalas ucapannya.

Aku yang sudah duduk di bangku kelompok langsung memanggilnya, "Sini kau! Makanya jangan bolos mulu."

Farad membulatkan mata diikuti seringaian lebar. "Kita satu kelompok, nih?" tanyanya dengan senang hati.

"Iya, karena waktu rapat minggu kemarin itu kau tidak masuk. Akhirnya kita dijadikan satu kelompok, deh," jelasku.

Farad langsung menarik kursi di sebelahku dan mendudukinya. Tangannya merangkul pundakku. "Kau memang sohib aku yang paling pengertian."

Aku langsung melepas rangkulan tangannya saat beberapa pasang mata menatap kami dengan meringis. Geli juga dipandang aneh seperti itu.

"Terpaksa!" ucapku dengan penekanan.

Ya ... aku memang terpaksa menyetujui Farad ada di kelompokku. Anak itu hanya bisa bercanda. Seperti sekarang saja dia malah mengajak anggota lain untuk suit dan yang kalah harus dijitak. Tentu saja, dia yang kalah.

"Weh! Kau pelan-pelan aja kali jitaknya!" seru Farad dengan geger, bahkan sampai beberapa panitia menyuruh Farad untuk diam tetapi tidak ia hiraukan. Anak itu masih asyik melawak dengan yang lain.

Aku hanya bisa bergeleng kepala melihat kelakuan Farad, lalu kualihkan pandanganku ke depan—menyimak ceramah Rafa dengan sesekali menguap menahan kantuk. Bukannya karena aku kurang tidur tadi malam, tapi aku merasa bosan mendengar ucapannya yang panjang lebar tanpa titik temu itu.

"Berikutnya, kita akan mendengarkan sambutan dan materi dari panitia yang nantinya akan memantau acara. Beliau juga alumni dari universitas kita, Kak Anhar Mustafa. Kepada Kak Anhar, tempat dan waktunya kami persilakan," ucap Rafa dari podium.

Kini giliran Anhar yang memberi kiat-kiat agar acara nanti berjalan dengan lancar. Aku cukup mengenal Anhar, dia adalah kakaknya Aldo. Pembawaan anak itu tenang dan terlihat begitu berwibawa serta intelektual. Dia juga sekarang bekerja sebagai aktivis LSM Kota Aceh Barat, dan memang masih kerap membantu kampus dalam beberapa kali acara.

Bersamaan dengan suara Anhar dari microphone, terdengar pula bisikan dari para perempuan yang senantiasa memuji Anhar.

"Duh ... Kak Anhar kelihatan berwibawa banget, ya."

"Iya, ngejelasinnya juga mudah dipahami!"

"Ganteng juga ... fiks, orang tuanya enggak nyesel punya dua anak yang sama-sama membanggakan! Tapi sayangnya Aldo itu agak gimana gitu, sih."

"Iya, keseringan bercanda!"

Lihat selengkapnya