Hari ini, kami kembali mengerjakan rancangan untuk persiapan pentas seni di salah satu ruangan kosong di lantai dua. Masing-masing kelompok memang disediakan satu ruangan untuk segala keperluannya dan kami sepakat untuk memilih ruangan ini.
Terlihat semua anggota kelompokku sibuk dengan tugas masing-masing. Seperti Salma, Nara, dan Alif yang terlihat sedang mempersiapkan rancangan dekorasi untuk menarik minat orang-orang. Juga Izza dan Ayuna—anak ekonomi, sedang menghitung modal dan ikhtisar pengeluaran. Lalu, ada Farad dan Yaumil yang memilih untuk selonjoran di lantai sembari memperhatikan orang-orang. Sesekali mereka juga terlihat asyik bercerita sendiri.
Kelompokku sebenarnya terdiri dari sembilan orang. Hanya saja, Silvia—anak semester satu, belum menampakkan diri. Kemungkinan dia masih ada kelas pagi.
Pandanganku beralih kembali ke layar laptop di depanku, melanjutkan tugas untuk mengetik rancangan kegiatan kelompok kami pada powerpoint.
Rencananya, kami akan berpartisipasi untuk menjual beberapa produk makanan buatan sendiri, cendera mata, serta penampilan Tari Saman yang akan ditangani Nara dan Ayuna dengan beberapa mahasiswi lainnya. Karena pentasnya pun terbuka untuk umum dan katanya juga akan ada ceramah dari Mamah Dedeh. Ya, akan mudah jika mengundang pendakwah seperti beliau sebab di Aceh pun untuk masalah perizinan dakwah itu lebih mudah dibandingkan dengan perizinan dangdutan. Bahkan saking susahnya, seumur hidupku pun tidak pernah mendatangi acara dangdut secara langsung.
"Semuanya, gawat!" Silvia membuka pintu ruangan dengan kasar hingga mengalihkan atensi kami semua. Wajahnya terlihat merah padam dengan napas memburu.
"Kenapa, sih, enggak bisa santai aja, gitu? Ini aku lagi masukin benang ke jarum, kalau tadi kaget terus kena jari gimana?" protes Alif.
"Lif ... Lif, lebay, kau! Cowok masa takut ketusuk jarum," celetuk Farad langsung dibarengi tawa oleh yang lain.
"Lagian kau ngapain, sih? Cowok masang benang segala?" cela Yaumil.
"Berisik korang! Masih mending aku ikut bantu-bantu, daripada kalian? Cuma jadi beban kelompok!" seru Alif bersungut.
"Weh, kita ini bukan cuma beban kelompok, tapi juga beban keluarga!" jawab Farad kembali membuat kami tertawa.
"Udah! Udah! Kenapa malah jadi bercanda, sih? Ada hal yang penting yang harus kalian semua ketahui, tau!" seru Silvia seketika membuat kami terdiam.
Silvia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Aku tadi di ruang panitia, ngobrol sama Kak Icha, kakakku. Terus di sana juga ada anak kelompok empat lagi ngumpulin daftar kegiatan mereka," ucap Silvia kembali. "Kalian tahu, enggak? Semua kegiatan dan rencana mereka juga sama persis kayak punya kita!" lanjutnya.
Seketika kami semua tercengang. Jelas itu bukan permasalahan yang sepele, karena dalam peraturan pun sudah dijelaskan tidak boleh menampilkan dan menyuguhkan kegiatan yang sama antar kelompok. Jika ada yang melanggarnya, nama kelompok mereka akan dicoret dari daftar atau harus mengalah dengan rancangan ide baru.
"Hah! Kok bisa, sih?" tanya Salma keheranan dengan mengernyitkan dahi.
Kami hanya diam dengan pikiran masing-masing. Raut wajah cemas dan takut jika rencana kami ini gagal seakan membuat mereka kalap.
"Maaf ya, semuanya ...," ucap Izza di tengah keheningan. "Kemarin aku ngasih tahu temanku tentang rencana kegiatan kita. Dia juga anggota dari kelompok empat dan aku enggak tahu kalau akhirnya mereka akan menjiplak rencana kita ...." Mata Izza memerah, kedua tangannya saling mencengkeram, menahan air mata.
"Kau gimana, sih! Itu sama aja ngasih umpan ke mereka terus matiin kelompok kita!" seru Yaumil.