"Dev, bantuin aku angkat ini ... susah, woi!" seru Yaumil dengan menjinjing sebuah papan triplek berukuran cukup besar dengan ketebalan 32 mm.
Aku langsung menghentikan perbincanganku dengan Alif dan Silvia. Segera aku hampiri Yaumil dan membantunya memegang sebelah sisi lainnya dari papan itu. Hanya butuh dua orang agar benda itu terangkat. Perlahan, kami membawanya menuju gerbang utama kampus.
Suasana kampus benar-benar ramai dan gaduh. Semua orang terlihat sangat fokus untuk persiapan pentas. Setiap harinya, kesibukan kami semakin bertambah. Apalagi hari ini adalah geladi bersih dan besok pentasnya akan di mulai.
Kami melewati beberapa ruangan yang digunakan untuk latihan penampilan pentas. Mereka semua terlihat fokus masing-masing dengan pagelaran yang akan ditampilkan.
"Lihat deh, itu tariannya kelompoknya si Nara sama Ayuna kompak banget, Dev," kata Yaumil dengan menunjuk menggunakan dagunya.
Aku mengikuti arah mata Yaumil agar bisa melihat teman sekelompok kami latihan, tetapi posisiku yang membawa papan membelakangi jalan membuatku susah untuk bergerak. Ditambah lagi, kami harus berdesak-desakan di koridor ini dengan orang-orang yang berlalu-lalang.
Akhirnya aku menyerah untuk melihat mereka. Lebih baik kami melanjutkan perjalanan kembali. Toh, besok juga aku masih bisa lihat penampilan mereka di panggung.
Selang beberapa langkah, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menabrak punggungku dan dibarengi bunyi gemeletak seperti barang terjatuh.
Aku langsung menyuruh Yaumil berhenti. Aku menoleh ke belakang, ke seorang gadis yang tak sengaja aku tabrak tadi. Gadis itu terjatuh ke lantai bersamaan dengan beberapa buku besar yang berserakan di sekitarnya.
"Auu ...." Ia merintih kesakitan dengan memegangi telapak tangannya yang sedikit lecet, kemudian langsung memunguti bukunya satu per satu.
"Maaf, ya, maaf ... aku enggak sengaja," ucapku sembari membantu mengambil buku-bukunya.
Gadis itu beringsut hendak berdiri. Ia mendongakkan kepalanya.
Ah, sial! Kenapa timingnya enggak pas, sih! kesalku di dalam hati.
"Eh, maaf, Lin ... maaf," mohonku kepadanya. Ternyata gadis yang aku tabrak lagi-lagi adalah Olin.
Olin menerima sebagian bukunya yang barusan aku ambilkan, lalu berucap, "Makasih, Kak." Hanya itu yang ia katakan sebelum pergi.
Olin berubah ....
Apakah tadi itu benar-benar Olin?
Aku mematung melihat perubahan sikap Olin. Kak? Sebuah kata yang sangat tak aku sukai. Sebelumnya dia tidak pernah memanggilku dengan sapaan itu. Biasanya ia langsung merengek dan memohon agar aku mau memaafkannya. Akan tetapi, hari ini tidak seperti hari sebelumnya.
Seperti tiga minggu yang lalu, saat aku dan Olin berbicara untuk yang terakhir kalinya setelah pertengkaran kita. Namun, sayangnya pembicaraan itu tak berjalan damai. Hari itu aku masih egois dengan menuruti emosiku yang melabil.
<><><><><>
"Dev, maafin aku," ucapnya dengan sesegukan. Sudah berkali-kali kata-kata itu ia keluarkan.