Di Balik Senja

Kepo Amat
Chapter #16

Kebaikan dan Kebodohan

"Terus kita harus gimana, ya?" tanya Ayuna memecah keheningan.

Kami hanya bisa menggeleng tanpa tahu harus berbuat apa. Semangatku pun meluntur hilang bersamaan dengan kekecewaan. Telah tiga hari kami mencari kebenaran hingga mengejar-ngejar beberapa penyelenggara untuk membantu kelompok kami. Namun, semua itu tak kunjung membawa kabar baik. Para panitia penyelenggara itu nampak sibuk dan tak mau terlalu lebih direpotkan lagi.

Aku menghela napas berat. kemudian menyenderkan tubuh ini pada sandaran kursi, mencoba bersantai sejenak. Aku menatap langit-langit ruangan sembari memikirkan masalah ide pentas yang sama itu.

Pikiranku selalu memungkiri bahwa itu adalah sebuah ide yang hanya kebetulan sama. Pengakuan Izza pun ternyata tak cukup, malahan kami yang sempat dituduh memfitnah kelompok empat. Jika kami mempunyai saksi atau bala bantuan terpercaya mungkin dapat membantu. Sayangnya itu tidak akan terjadi. Izza saja mengatakan kepada Arumi—temannya, saat ia di rumah Arumi.

Hal ini juga berdampak pada renggangnya pertemanan mereka. Aku dengar-dengar, mereka tidak akrab lagi. Izza juga masih saja menyalahkan dirinya atas masalah ini. Sedangkan Arumi pun tidak mengakui perbuatan. Padahal, dari anak kelompok empat pun mengatakan bahwa rancangan kegiatannya itu dari usul Arumi.

"Gimana, sih ... cara kita beresin masalah ini?" Salma menghentikan kegiatannya memasang manik-manik untuk cendera mata. Nampaknya, dia tak lagi bersemangat.

"Umm ... kita belum bilang ke Kak Anhar, kan?" Izza membuka suara. "Gimana kalau kita samperin dia. Umm ... kita coba bilangin ke dia. Siapa tahu dia ngerti terus bisa bantuin kita?" usulnya dengan ragu-ragu.

Kami serempak saling menatap, memikirkan perkataan Izza. Apakah Anhar nantinya mau membantu? batinku.

"Rad, gimana menurut kau?" Mataku mengitari seisi ruangan. "Di mana si Farad?" imbuhku saat tak melihat Farad di sini.

"Dia tadi kan tiba-tiba ke luar. Mungkin sakit perut kali," jawab Alif.

Aku mengangguk paham. "Yaudahlah, ayo kita temuin Kak Anhar aja," putusku seraya berdiri dari dudukku.

Di depan pintu, kami berpapasan dengan Farad. Anak itu merapatkan alis, menatap kami dengan raut wajah bingung.

"Kalian mau ke mana?" tanyanya.

"Nemuin Kak Anhar," sahutku.

"Weh, kebetulan dong! Aku juga mau ngajak kalian nemuin dia."

"Ngapain? Emang kau tahu kita mau ngapain?"

"Enggak, tapi masih enggak jauh-jauh dari persoalan pentas, kan?" tebaknya.

"Kalau kalian mau ke sana ...," ucapannya menggantung. Farad mengambil sesuatu dari kantung celananya, lalu kembali meneruskan kalimatnya. "Kita disuruh kasih ini ke Kak Anhar."

Aku mengambil sebuah surat yang diberikan Farad, kemudian membacanya. Terdapat beberapa tanda tangan penyelenggara. Totalnya, hampir semua penyelenggara memberikan tanda tangan di sana. Hanya ada nama Anhar yang kosong dan belum tertandatangani.

"Surat diskualifikasi?" kataku setelah membaca garis besar surat itu.

"Hah! Kita didiskualifikasi? Kok bisa?" tanya Nara.

"Bukan, ini surat ajuan buat diskualifikasi kelompok sebelah."

Lihat selengkapnya