Aku melangkah melewati gerbang kampus setelah sebelumnya memarkirkan motor di area parkir. Hiasan-hiasan balon berwarna keemasan, potongan kertas origami, rangkaian bunga, dan kata-kata doa baik terpampang menghiasi pintu masuk serta mading kampus. Pot-pot bunga kecil warna-warni yang ditempatkan bersusunan di rerumputan hijau pada kedua sisi area dalam gerbang juga turut membuatku terpukau.
Tepat hari ini acara pentas seni dimulai dan nanti malam adalah puncaknya setelah semua persiapan yang menurutku terlalu merepotkan dan sedikit memberi masalah itu.
Aku tertegun melihat banyak orang sudah berkumpul dan berdesak-desakan untuk menonton pentas yang terletak di lapangan utama. Jajaran tenda-tenda yang tersusun rapi di samping kanan-kiri jalan sebelum ke lapangannya pun turut meramaikan. Sepertinya tahun ini jauh lebih meriah dari tahun sebelumnya.
Setelah kekagumanku pada dekorasi kampus yang berbeda dan memberikan efek lebih mewah dari biasanya, aku langsung berlari menuju tenda kelompokku yang berjarak sekitar 36 meter dari panggung pentas.
"Sorry, aku telat," ucapku dengan napas tergesa-gesa.
"Ya elah ... ketuanya malah ngaret!" decak Yaumil.
"Janjiannya jam tujuh harus udah ada di sini malah baru datang jam sepuluh! Hadeh ...." Nara menggelengkan kepala sembari memijat pangkat hidungnya.
Aku hanya membalas dengan senyum bodoh kemudian mengganti jaket hoodie yang kukenakan dengan jas almamater kampus yang tersimpan di tas selempangku. Aku sadar seharusnya sudah datang sebelum pukul tujuh pagi. Namun, entah mengapa alarm yang semula aku atur dari pukul 06.30 WIB menjadi 09.30 WIB. Yang harus mereka salahkan tentu alarm sialan itu.
"Ya udah langsung bantu aja nih, Kak." Salma menyerahkan sebakul beragam cenderamata kepadaku. Aku menerimanya dan mulai menggantungkan dan memajangnya satu per satu.
Aku menoleh ke Nara dan Ayuna yang masih memakai pakaian bebas. "Kalian tampilnya kapan, sih?"
"Entar! Di akhir acara," balas Nara datar.
Aku berdecak. "Yaelah, sensi amat kau sama aku! Kan aku udah bilang, 'sorry telat'."
Ayuna yang menyimak kita tertawa, lalu berucap, "Bukan karena itu, Dev! Si Nara ini lagi enggak mood gegara harus jadi penutup acara, hahaha ...."
Aku mengangguk paham. "Oh, gitu .... Iya, sih, kadang kan orang-orang langsung pulang ya sebelum acaranya selesai," kelakarku dengan tertawa keras.
"Harusnya itu kita aja yang jadi pembuka acaranya!" seru Nara sambil membuka bungkus es krim dengan kesal. Ia memakan es krimnya, lalu berkata, "Kalo kemalaman kan ngantuk akunya ...," rengeknya.
"Ya gimana lagi, kan anggotanya juga enggak bisa hadir semua kalo pagi," imbuh Ayuna.
"Udah ... mau pagi, mau malam, yang penting kalian harus menampilkan yang terbaik semampu kalian," ucapku memberi semangat. "Entar gue janji bakalan lihat pertunjukan kalian! Walaupun semisal udah enggak ada satu orang pun yang lihat, gue bakalan jadi orang satu-satunya yang lihat performa kalian," lanjutku.