Aku mencatat materi dan berkutat dengan setumpukan buku tentang isu-isu politik yang sedang menjadi bahan acuanku pada SKS(Satuan Kredit Semester) semester tiga ini.
Hari ini, keadaan kampus berjalan seperti biasanya setelah pentas seni yang ditutup oleh performa dari timnya Ayuna dan Nara kemarin malam berakhir. Sempat kami menyangka acara penutupannya tak semeriah di acara pembukaan. Namun, ternyata semuanya benar-benar diluar dugaanku. Pada malam itu, usai ceramah dari Mamah Dedeh, dilanjutkan oleh Tari Saman yang dibawakan 75 orang itu membawa kesan menakjubkan pada pentas seni tahun ini.
Awalnya penarinya kurang dari 20 orang. Akan tetapi, karena sebelumnya sempat berseteru dengan kelompok lain yang telah didiskualifikasi, akhirnya sebagai tanda permintaan maaf mereka membantu kelompok kami dengan memberi rekrutmen dari kelompok mereka sebelumnya. Sebenarnya ada 105 orang, tetapi karena harus menyesuaikan dengan luas panggung dan kostum maka kapasitas penarinya pun dipangkas menjadi 75 orang.
"Belajar mulu kamu, Dev!" Ayuna tiba-tiba berada di hadapanku. Aku menoleh ke sekitar teras masjid kampus, melihat semuanya telah berkumpul di sini. Aku segera mempercepat gerak tanganku pada catatan terakhir.
Aku menutup buku catatan lalu memasukkannya ke dalam tas, meninggalkan satu buku binder. "Nungguin kalian kelamaan, sih. Aku udah setengah jam di sini!"
"Ya maaf, biasalah dosen killer pakai nambahin jam segala," balas Nara tak bersemangat.
"Lah ... kau tumben kumpulnya duluan, Dev? Biasanya kan kau yang paling ngaret!" celetuk Yaumil dengan mata tertuju pada game online di ponselnya.
"Nah ... iya, tuh! Pakai soksok-an belajar di mari lagi!" timbrung Alif.
"Wow .... Ya-iyalah. Aku nih sebenarnya anak rajin, weh!" sahutku dengan gaya berbangga diri.
"Rajin ya, saking rajinnya sampai telat terus enggak dibolehin masuk kelas!" celetuk Farad yang tiba-tiba muncul di sampingku. Ia mengambil buku catatannya yang masih tertaruh di depanku, kemudian memasukkannya ke dalam tas ransel hitam miliknya. "Udah selesaikan, ini?" tanyanya lalu kubalas dengan anggukan dan ucapan terima kasih.
"Yeah ... ternyata ketinggalan materi kau!" sorak Nara dengan dibarengi tawa yang lain.
"Habis dari mana kamu, Rad?" tanya Ayuna menghentikan tertawaan mereka. Akhir-akhir ini sikap Ayuna ke Farad berbeda.
"Toilet. Mules tadi lihat mukanya Dev mulu!" jawab anak itu dengan seenaknya langsung membuat mereka tertawa.
"Terus aja terus .... Entar ujung-ujungnya cela aku lagi!"
"Habisnya kau enak buat bahan celaan, sih!" kelakarnya lagi-lagi disambut tawa.