"Jelasin ke aku dulu apa maksud kalian tadi!" Tanganku masih mencengkeram tubuh Farad. "Enggak mungkin enggak ada apa-apa tapi dari omongan kalian tadi kayak serius gitu!"
Farad berdecak, pandangannya ia alihkan ke arah lain. "Aku tanya sama kau! Emang kau peduli sama Olin?" serunya.
Aku mengerutkan dahi. Kenapa bawa-bawa Olin? batinku. "Kenapa kau sebut cewek itu, sih! Apa hubungannya sama dia?"
"Ya karena dia yang udah tolongin kelompok kita di pensi kemarin!"
Ucapan Farad membuatku benar-benar terkejut. Tak pernah terpikirkan sedikit pun di kepalaku kalau orang itu adalah Olin. Saat mengetahui kebenarannya, emosiku semakin meluap. Apa maksud Farad dan Aldo menyembunyikannya dariku?
Tanganku mengepal kuat bersiap menghantam muka Farad. "Kau udah tau tapi kau enggak bilang ke aku!" Sejujurnya aku kecewa dengan Farad yang tak terus terang. Padahal, Farad itu tipe orang yang langsung berbicara dengan sederhana.
Farad menyeringai. "Buat apa juga? Kau juga udah campakin dia, kan?"
Kali ini emosiku sudah kalap. Tanganku terayun dan menghantam wajah Farad. Darah segar langsung keluar dari sudut bibir bagian kirinya.
Farad meringis keperihan sambil mengelap bibir yang berdarah dengan ibu jarinya. "Kenapa? Enggak terima!" Kini giliran dia balas memukulku. Pukulannya sangat cepat dan keras, hingga aku tak sempat menghindar.
Sebuah pukulan berhasil mengenai kepala, membuat pandanganku berkunang-kunang. Farad kembali menghantam wajahku beberapa kali. Dia tak memberikan jeda untukku membalas pukulannya. Aku merasakan perih dan nyeri di sekitar pipi dan mata. Namun, ini rasanya seperti sudah terbiasa aku alami.
"Harusnya aku yang menghajar kau! Kau ingat enggak janji kau waktu itu? Sudah berapa kali kau buat dia menangis?" Farad mencengkeram kerah bajuku kuat-kuat. "Dengan alasan yang aneh dan enggak logis kau mencampakkan dia gitu aja?" Lagi-lagi sebuah pukulan ia lancarkan kembali ke mukaku.
Aku sudah mengaku salah. Memang sepantasnya cowok seberengsek aku mendapati hukuman ini. Aku tak bermaksud mencampakkan Olin. Percuma juga aku menjelaskannya. Memang dilihat dari sudut mana pun aku yang bersalah.
"Gue bosen sama sifat cewek!" seruku yang langsung disambut sebuah tamparan pedas di pipiku. Tak hanya aku, Farad pun mengalami hal serupa denganku.
"Itu buat kau biar bisa menghargai cewek!" Aldo menatapku dengan tajam lalu beralih ke Farad. "Dan buat kau ... enggak usah sok jagoan di kampus!" Hanya dengan sekali gamparan Aldo dapat menghentikan perkelahian kami. "Udah puas berantemnya?"
Aldo kembali berjalan ke belakang dan duduk di salah satu anak tangga. "Duduk korang berdua!" perintahnya yang langsung kami turuti. Aku berjongkok dengan menyandarkan badan pada tembok. Sementara Farad memilih duduk di sebelah Aldo.
"Sakit, Dev?" tanya Aldo saat melihatku sedang memegangi kepala.
"Pusing palaku. Si Farad mukulnya beneran!"
"Emm .... Asin!" Farad berlari ke arah tempat sampah kemudian memuntahkan sesuatu di sana.
"Kenapa kau, Rad?" tanya Aldo setelah Farad kembali duduk di sampingnya.
"Gigiku copot," jawabnya dengan datar. Aku dan Aldo langsung tertawa geli.