"Nabila, gue pulang duluan, ya." Olin melambaikan tangan pada Nabila, hendak pulang usai bekerja.
Badan Nabila gemetaran. Ini sudah hampir dua minggu ia bekerja di percetakan tapi tetap saja ia belum terbiasa berinteraksi dengan orang lain.
'Ayo, Bila .... Ngomong jangan diam mulu. Ajak dia ngobrol juga!' batinnya.
"Vi-Violina, tunggu!"
Olin memberhentikan langkahnya. Nabila berlari kecil menghampiri gadis itu, ia menyesuaikan langkah sejajar dengan Olin.
"Kamu itu bukan orang Aceh, ya?" Nabila menutup mulutnya, sadar dengan rangkaian katanya yang kurang enak didengar. "Eh, maksudnya bukan orang asli sini—bukan, itu bahasanya? Aduh ... gimana sih ngomongnya ...."
Olin terkekeh kecil. "Lu ternyata berbakat jadi cenayang, ya? Tau aja. Gue emang bukan orang Aceh asli, sih .... Gue orang Jawa, heheheh ...."
"Bu-bukan gitu, soalnya kamu pakai 'lu-gue' kalau orang sini sih keseringan pakainya 'lon-keu', 'aku-kamu', atau 'aku-kau' gitu. Ada sih yang pakai 'lu-gue' tapi jarang. Terus juga waktu kita bicara pakai bahasa daerah, kamu cuma balas 'iya' dan ketawa?"
Olin cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tertutupi hijab, malu. "Ketahuan ...," rengeknya. "Jadi di sini panggilnya harus pakai 'aku-kamu'?" lanjutnya.
"Enggak wajib, terserah, cuma kebanyakan gitu kan ini enggak di perkotaan," jawab Nabila. "Eh, emang orang Jawa manggilnya—"
"Enggak-enggak-enggak, hampir sama mungkin kayak di sini. Cuma gue udah kebiasaan waktu di Jakarta," jelas Olin.
"Hah? Jadi kamu tinggal di Jawa terus ke Jakarta dan sekarang pindah di Aceh, gitu? Atau gimana?"
Olin mengangguk pelan, jalannya ia percepat selangkah mendahului Nabila. Tanpa persiapan ia berbalik ke arah Nabila, membuat gadis itu terlonjak kaget. "Lon galak keu kah," ¹) ucap Olin.
"Hah! Heh, Olin?"
"Hahaha ... benar, 'kan? Teman gue pernah ngajarin bahasa Aceh, dikit."
"Oh ... kirain, Olin bikin takut aja, ih!"
"Ya, maaf-maaf."
Nabila dan Olin kembali berjalan bersisihan. "Sebenarnya gue ke sini buat nyari dia, sih ... tapi ternyata susah juga nyari orang yang udah lama enggak ada kabar, hehehe ...,” ceritanya dengan tertawa kikuk.
"Cowok?"
"Hmm."
"Hah? Kenapa kamu cari orang yang belum tentu bakal ketemu? Bukannya kalau dia menghilang itu artinya dia emang sengaja pergi? Buat apa masih dicari lagi?" tanya Nabila kesal.
Nabila memang belum lama mengenal Olin tetapi melihat tekat Olin yang seperti itu membuatnya muak. Untuk apa Olin membuang-buang waktunya untuk mencari sesuatu yang tak pasti? Bahkan, Nabila langsung menilai laki-laki yang sengaja menjauhi seorang perempuan seperti itu adalah lelaki yang tak pantas untuk Olin perjuangkan.
Olin mengembuskan napas berat. "Lu tahu, saat lu berjanji ke orang lain dan lu enggak bisa menepatinya? Bahkan setelah bertahun-tahun lu enggak bisa lupa? Hanya akan ada penyesalan yang enggak berujung."
"Baik gue maupun dia, masih ada janji yang belum kita tepati. Dan itu sebabnya, apapun yang terjadi gue bakalan cari dia!"
Hati Nabila sedikit tersentuh mendengarnya. Kekesalannya terhadap laki-laki yang mereka bicarakan memang belum bisa ia redam, tetapi keyakinan Olin membuat Nabila ingin mengetahuinya lebih dalam.
"Jadi, kamu mau cari teman kamu yang udah ngajarin kamu bahasa Aceh? Dia orang Aceh? Siapa namanya? Siapa tahu aku kenal! Eh, ma-maaf aku jadi banyak tanya gini, hehehe ...," ujar Nabila dengan sungkan.
"Hah? Gue bingung mau jawab dari mana. Umm ... dia orang Aceh asli." Nabila melihat wajah Olin yang memerah, Olin kembali mempercepat langkahnya. "Gue kasih tahu namanya juga lu enggak kenal."
Nabila terdiam. Benar juga! Belum tentu dia tahu siapa orang yang dicari teman barunya itu.
Olin kembali menoleh ke Nabila. "Umm ... tapi kalau lu mau tahu, namanya itu Dev. Enggak kenal, 'kan? Enggak kenal. Mana mungkin, Aceh kan luas juga!"
"Dev siapa? Ada sih tetangga aku yang namanya Dev tapi masih balita. Terus juga ada, rumahnya enggak terlalu jauh dari rumahku tapi kakak kelasku waktu SD. Anaknya Cik Delisa."
Olin melebarkan mata seolah tak asing dengan nama itu. "Bentar, yang kakak kelas lu itu nama ayahnya Djuari, bukan?""
"I ... iya! Jangan bilang dia yang kamu cari?" tanya Nabila, Olin mengangguk cepat. "Dunia emang sempit banget, ya, Lin?"
Olin mengangguk dengan ekspresi seolah masih tak percaya.
"Dengar-dengar juga, dia kuliah di universitas yang sama yang bakal aku masukin, Lin."