Semua ingatan tentang aku dan gadis pemilik senyum manis itu terus berputar dalam kepalaku. Tentang kisah masa lalu dan percakapan sederhana yang pernah kami katakan.
Aku tak ingin perpisahanku dengan Olin seperti dua tahun yang lalu. Tidak ada kata pengakhir dan tiba-tiba menghilang. Sangat menyakitkan, bukan? Mungkin ini juga yang pernah Olin rasakan dulu.
"Woi, Dev! Kau mau cari dia ke mana, sih!" Kami terus berjalan cepat menuju luar area kampus.
"Pantai!"
"Kau yakin dia di sana?"
Aku mengangguk mantap. Entah mengapa satu-satunya tempat yang aku pikirankan sekarang adalah pantai itu. Keakraban dan kerenggangan persahabatan kami berasal dari sana.
Aku mempercepat langkah saat berada di parkiran hendak mengambil motor.
"Ah, sial!"
"Motor kau ada di tengah, Dev. Kehimpit!"
Aku mengehela napas panjang. Tidak ada waktu lagi apabila menunggu motor itu dapat keluar dari parkiran.
Aku membuka jas almamater lalu melemparkannya ke belakang. "Rad, titip!" seruku kepada Farad yang langsung sigap menangkapnya.
"Dev, jangan bilang kau mau jalan kaki ke sana?" Aku tak menjawab pertanyaan Farad. Tanpa kujawab pun mereka sudah tahu jawabannya.
"Entar kita bakal nyusul ke sana! Jangan sampai kau kehilangan dia lagi!" seru Aldo menyemangati.
"Kejar Olin, Kak Dev! Kita juga enggak mau kehilangan teman kayak dia!" Teriak Salma.
Aku langsung berlari cepat melewati gang-gang kecil untuk mencari jalan pintas menuju pantai. Aku terus berdoa di dalam hati semoga masih sempat bertemu Olin.
Keringat mengucur deras dari tubuhku. Setiap kaki ini melangkah, bagai membawa penyesalan yang begitu besar. Membesar seiringan dengan langkah yang semakin melambat, kekelahan.
Tak terasa kakiku sudah menginjak hamparan pasir putih. Aku berhenti sesaat sebelum kembali berlari menemui gadis itu.
Pandanganku edarkan mengamati satu per satu orang di sana, mencari sosok Olin. Namun, yang tertangkap hanya para nelayan yang sedang mencari mata pencaharian mereka. Sepertinya, firasatku salah.
Rasanya begitu perih. Luka yang lebih dari dua tahun aku tutupi, kini seakan kehilangan perban dan kembali tersayat. Tentang janji, ucapan terima kasih, dan permintaan maafku yang belum tersampaikan kepadanya.
Tidak, lebih dari itu! Masih banyak yang harus kukatakan pada gadis itu.
Kaki-kakiku pun melemas hingga tak sanggup menahan beban tubuh. Aku terjerembap dengan menyembunyikan wajah—menutupi rasa maluku sebagai seorang lelaki di mata dunia.
Olin ... kini aku mengerti apa yang kamu katakan tentang harapan itu. Ternyata di balik kata-kata sederhana yang terkesan ambiguitas itu menyimpan kerumitan.
Semua alur ini begitu sangat membosankan. Mengapa aku harus diberikan hati jika hanya untuk merasakan luka? Tidak! Bukan aku yang terluka. Tetapi aku yang melukai.
Aku mendongakkan kepala, memandang air laut yang seakan mempermainkan hendak menyapu tubuhku. Percikan dari air laut telah membasahi celana dan sebagian bajuku.
"Olin!" Berulang kali aku meneriakan nama gadis itu. Berharap entah di mana pun ia sekarang, dia dapat mendengar dan langsung datang di hadapanku. Namun, itu tidak akan terjadi bahkan ombak pun seolah menertawaiku yang terlihat mengenaskan.