Aku menyukai keheningan malam, sedangkan kau menyukai keindahan senja. Dua hal yang selalu bersisihan, tapi tak pernah bersama.
Mulai hari ini, aku menyukai senja dengan segala keindahannya. Termasuk gadis yang selalu berusaha untuk tetap berada di sampingku.
Masih teringat jelas di benakku, bagaimana cara gadis itu mengulum senyum simpul termanisnya. Netranya berbinar penuh kehangatan dan kedamaian. Gadis penuh keceriaan yang ternyata hanya untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Tak jauh berbeda denganku, karena aku selalu belajar dari dirinya.
Seolah baik-baik saja. Menipu dunia dengan memperlihatkan tawa tanpa sedikit pun beban.
Cara perlakuannya hingga menyadarkanku bahwa apapun yang kita lakukan tidak ada yang namanya berakhir sia-sia meski gagal sekalipun.
Di balik senja kini kutahu bahwa; senja sederhana. Akhir keindahan adalah kegelapan, dan makna gelap tak selamanya suram. Terkadang kita dipertemukan hanya untuk saling membasuh luka, menaruh rasa sesaat, bukan untuk selamanya mengikat.
Masih di tempat ini, tempat yang menjadi awal kita akrab kembali. Tempat di mana kau berusaha menghiburku. Tempat di mana aku bisa menuangkan perasaanku. Juga, tempat di mana perpisahan kita terjadi.
Sesungguhnya diriku bukanlah seseorang yang kau pilih. Bukan sebuah kebetulan atau keberuntungan, melainkan kesengajaan yang sudah tertuliskan oleh takdir dari rencana baikNya untuk mempertemukan kita berkali-kali.