Kesendirian yang begitu menenangkan. Hanya ditemani petikan gitar tanpa vokal, kicauan burung beterbangan yang hendak kembali ke sarang, serta deburan ombak dan embusan angin yang cukup kencang.
Usai mata kuliah hari ini berakhir, aku memutuskan untuk pergi ke pantai yang tempatnya tak jauh dari kampus. Sebuah pantai yang terbilang masih sepi dan belum terekspos dari khalayak ramai.
Aku berduduk santai di saung pantai. Masih kupetikan senar gitar ini dengan sebuah lagu lokal yang mengalun untuk membunuh sepiku.
"Lon rindu, lon rindu .... (Aku rindu, aku rindu ....)"
Terdengar suara lirih mengikuti irama petikan gitar di tengah lagu, aku mengabaikan suara itu. Paling hanya halusinasi air pantai saja.
"Hate sabe meurindu ... lon yakin troh masa, bak ulon tagisa .... (Hati selalu merindu ... aku yakin suatu saat nanti, kamu 'kan kembali padaku ....)"
Suara itu nampak semakin terdengar jelas. Aku menoleh mencari sumber suara itu. Sepertinya suara itu berasal dari belakang saung.
Terlihat seorang perempuan berhijab dengan tas ransel berwarna coklat yang hanya ia gantungkan di salah satu pundaknya.
"Mantong teusimpan, di dalam hate ... keunangan yang sabe lon jaga—(Masih tersimpan di dalam hati ... kenangan yang selalu kujaga—)"
Petikan gitarku terhenti. Seketika jari-jari tanganku menjadi kaku. Suasana yang awalnya damai dalam kesendirian, kini menjadi tegang dan membuatku tak nyaman lagi.
Gadis yang bernyanyi tadi berjalan ke samping saung hingga akhirnya berada di sebelahku.
"Kenapa berhenti? Kok enggak dilanjut?" tanyanya.
Aku masih terdiam, tak habis pikir kenapa dia bisa tahu tempat ini.
"Dev, lu belum jawab pertanyaan gue yang kemarin lusa. Kenapa lu menjauh dari gue? Apa salah gue?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku meraupkan wajahku yang terasa kaku. Kali ini, situasinya benar-benar membuatku terpojok.
"Gue emang pengecut karena membuat kalian berpikir gue menjauhi kalian." Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. "Lagian, gue juga udah capek jadi orang yang kayak gini terus. Bawel, toxic, sok pede, ngeselin!"
Gadis itu membulatkan matanya, hendak menyahut. Sebelum dia menjawab, aku memotong terlebih dahulu.
"Gue bakal terima saran orang-orang buat berubah. Gue bukan lagi anak kecil yang enggak bisa merubah sikap. Banyak yang risih, marah, dan terganggu juga karena keusilan gue. Terlebih lagi karena perbuatan gue sampai buat orang menangis. Dan lu tahu, kan? Gue cuma bisa diam sambil introspeksi diri. Enggak berani minta maaf, apalagi ketemu orangnya," lanjutku.
"Dev … tapi, lu enggak perlu sampai menghindar dari kita," katanya dengan mengaitkan teman-temanku yang ada di ibu kota.
"Lu tahu? Waktu itu … nenek gue juga lagi sakit parah sampai harus gue jaga di rawat inap." Dadaku semakin terasa sakit saat mengingatnya kembali. "Gue terpaksa pindah sekolah karenanya. Gue juga terancam enggak kuliah. Belum lagi masalah keluarga gue yang belum bisa gue ceritain ke lu, sekarang."
"Gue bilang ini semua ke lu, supaya lu mengerti. Hidup gue enggak cuma tentang satu sisi. Masalah gue banyak, dan sifat manusia bisa berubah tergantung keadaan. Kalau udah kayak gini, gue anggap semua orang jadi pelampiasan!" jelasku panjang lebar.
"Gue enggak peduli lu mau ngerti atau enggak," putusku.