Di Balik Senja

Kepo Amat
Chapter #5

Pertemuan yang Direncanakan

"Dev, gue masih enggak percaya kita bisa bertemu dan akrab lagi. Gue jadi ingat awal kita kenal dulu."

Gadis itu menghela napas sesaat. "Kita bertemu, lalu berbincang itu hal yang awalnya sulit terjadi, kan? Coba lu inget. Waktu itu tiba-tiba gue sok kenal dan lu sok dingin, sok cuek lagi," celanya dengan tertawa ringan.

Seketika ingatanku kembali berputar pada masa itu.

<><><><><>

Waktu itu aku sedang berjalan di sekitaran komplek, di depan terlihat seorang perempuan menatapku dengan pandangan aneh. Dia terus melangkah menghampiriku dengan pelan tapi pasti.

"Umm, lu Dev, kan?" tanyanya saat jaraknya kurang dari lima meter di hadapanku.

"Enggak," balasku tak minat merespon orang asing.

Ia mengeluarkan ponsel dari kantung celana levi's yang dikenakannya. "Tuh, kan, lu Dev .... Muka lu di sini sama kayak yang di profil What's App!"

"Enggak."

"Iya, lu Dev. Ini gue Olin!"

Aku mendecak kasar. "Lu tahu enggak? Azab orang yang sok kenal mati kena runtuhan buah sawo!"

"Enak, dong."

"Runtuhan buah sawo, enggak cuma beberapa buah! Tapi bertumpuk-tumpuk sampai lu ketimbun terus sesak napas!" seruku, lalu berjalan meninggalkannya yang mungkin saja kini sedang membayangkan azab itu.

"Dev .... Azab enggak mungkin nyamperin gue! Katanya, gue terlalu baik buat diazab! Dia pernah nolak gue kemarin!" teriaknya dari belakang.

Aku tak mengindahkan ucapan anehnya. Sebenarnya aku sudah menduga dan mengenali anak itu, tapi sesekali menjahilinya untuk pertama kali kita bertemu secara langsung tidak ada salahnya.

<><><><><>

Aku tersenyum saat mengingat pertemuan pertama kita yang jauh dari kata akrab.

Kita memang berkenalan dari sosial media karena sebuah hobi yang sama. Hingga pada akhirnya kita ternyata adalah tetangga. Rumahku dulu tepat bersebelahan dengan rumah Olin. Hanya terpisahkan oleh pagar di samping rumah masing-masing. Biasanya, hanya ada di film-film fiktif saja yang secara kebetulan seperti itu.

Entah aku dulu harus bersyukur atau malahan menjadi musibah. Ada banyak keceriaan dan warna yang telah gadis itu berikan, serta ada beragam masalah setelahku mengenalnya semakin dekat.

"Tapi kemudian kenyataan menghantam dan lu menghilang," ucapnya lagi, kali ini membuat dadaku terasa perih. "Lalu secara tak sengaja lagi, kita dipertemukan oleh takdir kembali. Entah untuk selamanya atau lagi-lagi hanya sesaat."

Lihat selengkapnya