Di Balik Senja

Kepo Amat
Chapter #8

Terkekangnya Suatu Kebebasan

"Assalamu'alaikum," salamku ketika berada di depan rumah sembari mengetuk pintu, menunggu orang di dalam membukanya.

Udara malam terasa begitu menusuk kulit. Badanku terasa pegal sekali usai dari kedai. Aku melihat arloji yang menempel pada tangan kiriku telah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Seharusnya aku pulang pukul sebelas malam, tetapi karena kedai yang sangat ramai akhirnya aku baru bisa pulang sekarang. Bahkan saking ramainya hari ini, aku tidak ada waktu untuk ikut menimbrungi obrolan Aldo dan Farad seperti biasanya.

Kenop pintu dibuka, menampakkan seseorang keluar dari balik pintu. "Wa'alaikumu salam .... Baru pulang, Dev?" tanya bundaku sembari menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah.

Aku mencium punggung tangannya. "Iya, Bun. Tadi ramai, jadi lembur." Bunda tersenyum sembari mengangguk paham.

Terlihat ayahku sedang duduk di ruang tengah sambil membaca koran. Aku melangkah mendekatinya, hendak mencium tangan.

"Bagus ... jam segini baru pulang!" Ayah membanting koran ke meja di depannya. Dia mengambil sebuah kayu balok dengan panjang kurang lebih setengah meter yang berada di samping kursinya.

Aku melebarkan mata menatap kayu itu lalu menunduk, siap menerima hukuman darinya. Ini bukan pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini. Seberapa banyak pun aku membela diri tetap saja ia tidak mau mendengar alasanku.

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, berusaha untuk menahan rasa sakit ini. Tongkat kayu terus menghunjam badanku. Mengenai punggung dan tanganku berkali-kali. Badanku sesekali bergetar menahan perih dan pedasnya pukulan itu.

"Mau jadi apa kau? Pulang tengah malam, mau jadi anak enggak benar? Hah!" serunya menggelegar.

Aku tidak sanggup untuk berdiri lagi. Badanku semakin lunglai, lalu jatuh di lantai dengan posisi meringkuk disertai kedua tangan melindungi kepala. Persis seperti maling yang tertangkap basah.

"Tadi kedai ramai, Yah. Aku jadi disuruh pulang agak malam," ucapku jujur dengan sesekali meringis kesakitan.

"Alasan saja kau! Sudahlah ... kalau main, ya bilang habis main saja!"

Aku membuka tangan perlahan. Mengintip wajah ayahku yang memerah karena amarah, lalu mengalihkan pandanganku ke bunda yang hanya diam mematung tanpa bisa meredam amarah ayah.

Aku mencekal kayu itu saat melihat ada celah dari pukulan yang terus membabi buta itu, lalu membuang kayunya sekuat tenaga ke sudut rumah yang jauh dari jangkauan beliau. Untuk sesaat aku tidak merasakan pukulan lagi, tetapi ayah justru memukul dan menendangku dengan tangan dan kakinya. Rasanya lebih sakit dibanding kayu tadi.

Aku mengerang ketika salah satu tendangannya mengenai tulang keringku. Sakit sekali, aku tidak tahan lagi. Kepalan tanganku semakin menguat.

Lihat selengkapnya