Hari-hari silih berganti. Aku dan Olin semakin akrab setiap harinya, selayaknya masa indah yang pernah kita jalani terulang kembali. Kita memang tidak bisa memutar waktu, tapi kita bisa mengulang waktu kembali. Meskipun situasi dan keadaannya sudah tidak seperti dulu lagi.
Seperti saat ini, aku dan Olin tengah berada di sebuah balkon kedai kopi tempat biasa aku bekerja. Malam ini sebenarnya aku libur kerja, tapi karena sudah menjadi kebiasaanku untuk menghabiskan setiap malam di sini, baik itu bekerja atau nongkrong dengan Aldo dan Farad.
Entah hari ini kebetulan atau memang tersengaja lagi, kita bisa bertemu di sini. Katanya, Olin tadi bersama ketiga temannya ke sini lalu dia ke toilet yang letaknya di lantai atas pojok bangunan. Terus melihatku yang tengah memandangi langit malam di balkon ini.
Lantai atas dari kedai inipun cukup luas dan terbuka. Pemandangan malam dari atas sini memang sangat bagus dan menenangkan. Tempat ini adalah bagian yang paling sering aku jadikan sebagai tempatku untuk menikmati keheningan malam.
Walaupun nyatanya sangat berisik dan ramai. Tentu di sini bukan hanya kita berdua. Banyak orang yang memilih menikmati kopi mereka di sini, bercengkrama, dan sesekali tertawa ria. Menghabiskan malam sebelum waktu beristirahat mereka.
Keakraban kita pun sampai membuat Olin masuk menjadi anggota baru di BEM, minggu lalu. Dari sana pun aku jadi mengetahui jurusan apa yang Olin ambil. Dia mengambil jurusan psikologi humanistik. Menurutku, dia sangat cocok mengambil jurusan itu.
Aku menatap langit, bintang-bintang selalu berkilauan di tengah gelapnya malam. Bisa dibilang malam ini cerah karena bintang dapat bersinar terang dan tak tertutupi oleh mendung.
"Malam ini cerah sampai-sampai kita bisa melihat ribuan bintang di langit," gumamku yang masih bisa didengar Olin.
Olin tersenyum sambil menatap langit. "Hmm … iya, tapi hal yang paling gue takuti dari dulu adalah kegelapan malam saat lu enggak ada di samping gue."
Aku menaikan satu alis, menoleh ke arahnya sesaat lalu kembali kualihkan menatap langit.
"Dan seiring berjalannya waktu, gue sudah terbiasa dengan gelapnya malam tanpa adanya lu," ucapannya terhenti sesaat. "Awalnya sulit, bahkan sampai sekarang masih sulit. Setiap kali gue ingat bagaimana lu pergi meninggalkan gue, meninggalkan kita … jujur, gue selalu menangisinya."
Aku menghela napas berat. Seperti ada beban dalam dada setelah mendengarkan pernyataan gadis itu.
"Lin, gue enggak tahu waktu itu lu nangis atau enggak. Kita memang satu negara, tapi beda tempat berpijak. Enggak mungkin, kan gue ke sana buat nenangin lu?"
"Dev ... gue baper, loh," gumamnya.
Aku menepuk jidat. Tingkahnya masih sama dan akupun masih bingung apa yang membuatnya menjadi berbunga-bunga. Padahal, tidak ada niatanku untuk menggombalinya. Aku bukan tipikal cowok yang senang bermanis kata. Semua yang keluar dari mulutku adalah wujud perasaanku yang hendak kukatakan. Entah itu rasa senang, bahagia, sedih, marah, kesal, dan sebagainya.
Aku terkekeh geli. "Lu baper dari mananya, sih?" tanyaku heran.
"Kata-kata lu itu. Semua perkataan lu buat gue baper!" serunya.
Aku menepuk jidat lagi, tak habis pikir dengannya. "Lin, apakah prinsip lu masih sama?"
Olin mengerutkan dahinya. "Prinsip?" katanya berbalik tanya. "Prinsip tentang? Yang mana?"
Aku tidak tahu, berapa banyak kata penguat hati yang dijadikan sebagai pedoman hidupnya. Hanya saja, aku selalu ingat sebuah kalimat yang sering diucapkannya.
"Jangan berharap dengan manusia karena itu hanya sia-sia."
Entah mengapa rasanya aku ingin mengatakan itu sekarang. Entah untuk diriku sendiri atau untuk gadis itu.