Di Balik Senyum Rinjani

quinbbyyy
Chapter #7

Sahabat Bermula Bagi Kurung

Pagi itu udara Bandung masih menyisakan dingin ketika Debby berangkat sekolah bersama dua sepupunya, Jeni dan Jesi. Mereka berjalan menyusuri jalan kecil menuju SDN Tenjolaya 01, melewati rumah-rumah yang masih tertutup dan sisa embun yang menempel di daun. Jeni melangkah paling depan dengan langkah ringan dan celoteh yang tak pernah habis, sementara Jesi berjalan tenang di samping Debby, sesekali menoleh seolah memastikan Debby baik-baik saja.

“Kita satu kelas, Deb,” kata Jeni sambil menoleh singkat. “Nanti duduknya deketan aja.” Debby mengangguk pelan. Ada rasa gugup yang menempel di dadanya, tapi juga sedikit lega. Menjadi murid baru terasa tidak terlalu menakutkan ketika ada wajah-wajah yang sudah dikenal di sekelilingnya. Halaman sekolah mulai ramai oleh anak-anak berseragam merah putih. Suara langkah kaki, tawa kecil, dan panggilan teman bercampur menjadi satu. Debby menggenggam tasnya lebih erat, matanya menyapu bangunan sekolah yang masih terasa asing. Ketika mereka masuk ke kelas tiga, guru sudah berdiri di depan, menunggu murid-murid duduk rapi. Tak lama kemudian, Debby dipanggil ke depan kelas.

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru,” kata guru itu dengan suara tenang. “Namanya Debby. Mulai sekarang, ia saudaranya Jeni dan Jesi.” Beberapa anak menoleh dan tersenyum. Tak ada tatapan aneh atau bisik-bisik yang membuat Debby ingin menunduk. Dari bangku depan, seorang anak perempuan berambut rapi menoleh dan menyapanya lebih dulu. Tatapannya tenang, senyumnya tipis namun hangat.

“Aku Dheanita Senjaya Putri,” katanya pelan. Debby membalas senyum itu, merasa ada sesuatu yang menenangkan dari caranya berbicara. Tak jauh dari situ, suara ceria menyahut dengan cepat.

“Aku Widya Adella!” katanya sambil tersenyum lebar. “Nanti istirahat jajan bareng, ya!” Debby tertawa kecil. Suasana kelas yang semula terasa kaku perlahan mencair. Seorang anak perempuan lain berdiri sedikit dari bangkunya dan memperkenalkan diri dengan sopan, namanya Dhyvna Anggita Dewi. Dari sikap anak-anak lain, Debby tahu Dhyvna bukan murid biasa, karena ia Adalah cucu kepala sekolah. Namun yang membuat Debby terkesima pada Dhyvna yakni tak ada jarak dalam caranya berbicara. Ia ramah, seperti teman yang sudah lama dikenal.

Pelajaran dimulai. Kapur berderak di papan tulis, angka dan huruf tertulis rapi. Sesekali, Ibu Guru memberikan penjelasan terkait pembelajaran serta materi yang sedang ditulisnya saat itu. Debby duduk di antara Jeni dan Jesi. Saat ia sedikit tertinggal mencatat, Jesi perlahan menggeser bukunya, menunjukkan baris yang terlewat. Jeni berbisik singkat agar Debby tak perlu panik. Sungguh beruntung sekali aku punya sepupu sepertinya. Bisik Debby dalam hati.

Di depan kelas, Dheanita mencatat cepat dan rapi. Selain sekretaris kelas, Dheanita yang merupakan ketua murid kadang menggantikan guru untuk menulis di papan tulis. Ketika guru melemparkan pertanyaan, ia mengangkat tangan dan menjawab dengan yakin. Debby memperhatikannya diam-diam, menyimpan rasa kagum kecil di hati. Kabarnya, Dheanita adalah siswi langganan ranking 1 di kelas itu. Disisi lain, sesekali Widya melontarkan komentar ringan yang membuat kelas tersenyum tanpa mengganggu pelajaran. Debby merasa kelas itu memiliki ritmenya sendiri, tenang, hangat, dan tidak membuatnya merasa asing.

Lihat selengkapnya