Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #1

1. Pilihan yang Bukan Keinginanku

“Fino, kamu gak punya pilihan.” Kalimat itu bergema di sebuah ruang keluarga yang luas nan megah. Fino berdiri di tengah ruangan itu dengan bahu yang bergetar karena menahan rasa marah yang bisa saja dia ucapkan sekarang, namun pada kenyataannya Ia lebih memilih untuk diam.

Lampu gantung kristal menggantung tinggi di langit-langit ruang tamu tersebut, cahaya keemasannya memantul di lantai marmer putih yang mengilap. Sofa kulit berwarna krem tersusun rapi menghadap meja kaca besar, sementara lukisan-lukisan mahal menghiasi dinding. Segalanya terlihat sempurna, mewah, elegan, dan mahal. Namun bagi Fino, ruangan itu terasa seperti ruang sidang.

Di seberangnya, sang Papa duduk tegak di sofa utama dengan ekspresi yang tidak bisa ditawar. Pria itu masih mengenakan setelan jas karena baru saja pulang dari kantor tempatnya bekerja. Di sampingnya, sang Ibu duduk dengan anggun, kaki bersilang, tangan terlipat di pangkuan. Wajahnya cantik dan terawat, tetapi matanya memancarkan ketegasan yang sama seperti ayah Fino. Tatapan mereka berdua tertuju pada anak tengahnya yang belum memberikan jawaban. Fino menarik napas pelan, berusaha menenangkan nafasnya yang terasa sempit.

“Aku hanya...” suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan.

"Kamu itu sudah kelas 12, sebentar lagi lulus, maka kali ini pilihlah studi yang sesuai dengan skill yang kamu miliki," potong Papanya.

“Aku hanya mau ambil filmmaking, Pa,” seketika suasana menjadi sunyi, hanya suara detak jam besar di sudut ruangan yang terdengar, Mamanya mengedip pelan sembari berpikir.

“Filmmaking? Yang benar saja, Fino, kamu bahkan gak pernah menyentuh tugas tentang dunia perfilman selama di sekolah,” Fino mengangguk pelan meskipun agak sedikit ragu.

“Iya, Mama gak tahu aja kalau dari dulu... bahkan sejak SMP, kalau ada proyek film pendek aku selalu yang nulis naskahnya dan jadi sutradara, meskipun itu masuknya ke nilai bahasa Indonesia, Ma,” Ia menunggu sesuatu, yaitu respon, dukungan, atau setidaknya pengertian. Tapi ternyata tak ada jawaban apapun selain Papanya yang menatapnya lama sebelum memutuskan sesuatu.

“Sejak kapan kamu menganggap itu masa depan? Itu hanya nilai biasa, Fino. Tidak dengan skill dan masa depanmu,” tanyanya akhirnya, Fino menelan ludah.

“Itu bukan baru, Pa, aku sudah mempelajarinya sejak SMP dan ingin melanjutkan itu di kuliah nanti,"

“Itu masuknya sebatas nilai akademik saja, bukan masa depanmu. Bahkan skill menyanyimu lebih terlihat masa depannya daripada dunia perfilman itu!” Papanya menaikkan nada suara sampai ruangan tersebut bergema kembali. Fino pun mengepalkan tangannya.

“Setelah bersekolah bertahun-tahun aku ingin mengembang ilmu yang aku dapat dari sekolah, Pa. Bukan ke dunia hiburan seperti menyanyi. Aku juga sempat mikir ambil desain interior atau jurusan kreatif yang lain kok, yang penting masih sains kan?” lanjutnya, mencoba bertahan.

“Tapi kamu tidak akan mengambil itu!” Suara Papanya kembali memotong dengan tegas dan tidak bisa dilawan. Fino menatapnya dengan menahan amarah yang kapan saja bisa meledak.

“Kenapa?” Papanya sedikit mencondongkan tubuh ke depan, tepat di hadapan Fino.

“Karena kamu butuh jalur yang jelas, stabil, dan benar-benar bisa membuatmu sukses ke depannya dalam waktu yang lama,” Mamanya mengangguk pelan.

“Kami tidak membesarkan kamu untuk hidup dengan ketidakpastian, kami hanya tidak ingin kamu hidup susah, Nak,” Fino sedikit tertawa, namun tidak bisa dipungkiri kalau matanya kini semakin berair.

Lihat selengkapnya