Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #2

2. Puisi yang Tidak Pernah Sampai

“Jadi setelah lulus, kamu mau nerusin ke mana, Fin?” Pertanyaan itu muncul begitu saja di tengah riuhnya kantin sekolah.

Suara sendok beradu dengan piring, tawa siswa yang saling bersahutan, dan aroma makanan yang bercampur di udara membuat siang itu terasa hidup. Cahaya matahari Jakarta masuk lewat kaca besar di sisi ruangan, memantul di permukaan meja kayu yang dipenuhi siswa kelas dua belas angkatan terakhir sebelum semuanya berubah. Fino duduk di salah satu meja bersama teman-temannya. Di depannya, segelas minuman dingin mulai kehilangan esnya karena sudah mencair, dan sejak tadi Ia hanya memutar sedotan pelan tanpa benar-benar berniat meminumnya.

“Belum tahu,” jawabnya singkat.

“Ah, masa sih?” Raka langsung menyikut lengannya.

“Kamu kan anak orang kaya, pasti sudah disiapin untuk kuliah di luar negeri lagi seperti waktu SD sampai SMP dulu, iya gak? Kutebak… kali ini pasti ke Inggris!” Dengan penuh antusias, Raka menyebut negara yang kemungkinan Fino akan mampu kuliah di sana.

“Kalau tebakanku sih Swiss lagi mungkin, balik ke sana terus jadi penyanyi Internasional deh,” timpal Dani sambil terkekeh diikuti oleh Raka yang juga tertawa. Namun Fino hanya bisa tersenyum tipis. Kalau saja semuanya sesederhana itu pasti Fino sudah bahagia tanpa menanggung rasa bimbang di dalam benaknya.

“Ck! Kalian terlalu banyak berpikir, aku gak akan kuliah di luar negeri seperti yang kalian bicarakan,“ Raka pun mengangkat alisnya bingung.

“Serius?” Fino mengangguk kecil.

“Aku akan kuliah di Jakarta,”

“Jakarta?” Dani terlihat benar-benar kaget.

“Ngapain? Kamu serius?” Fino menatap meja sebentar sebelum menjawab.

“Ya, lebih tepatnya khusus studi Kedokteran gigi.” Awalnya suasanya sunyi, seperti berhenti sejenak untuk mencerna yang Fino bicarakan, dua temannya itu baru sadar dan tanpa sadar menggebrak meja.

“HAH!” Reaksi itu datang bersamaan.

“Dokter gigi?” ulang Raka, masih tidak percaya.

“Lah, bukannya kamu hobi banget nyanyi selama ini? Dokter gigi terdengar aneh dengan seorang Fino yang kita kenal, seperti terlalu jauh Fin,” Fino menghela napas pelan.

“Aku bukan penyanyi, dan ini sudah paten,"

“Hey Fin, kamu nyanyi di acara sekolah aja semua orang langsung menyukainya, itu bukan ‘biasa’,” Dani mencondongkan tubuh ke arah meja dan sedikit merendahkan suaranya.

“Kalian berlebihan, itu hanya sekadar nyanyi aja tanpa rasa,” jawab Fino.

“Hanya? Suara kamu itu beda, Fin. Jika orang lain seperti kita ini kalau nyanyi fals dan kadang ada serak-serah basahnya gitu, tapi kamu enggak loh, suaramu benar-benar bening seperti air pegunungan,” sahut Raka sembari menggeleng pelan. Fino pun mengunyah makanannya dengan cepat sembari menjawab.

"Ck! Jangan terlalu banyak memujiku, nanti aku sombong loh,"

Lihat selengkapnya