Beberapa minggu setelah percakapan di kantin itu, hidup Fino menjadi benar-benar berubah. Setidaknya, dari luar Ia tetap datang ke sekolah, tetap duduk di kelas dan seperti layaknya murid kelas dua belas yang sedang menunggu kelulusan. Tapi di balik semua itu, jadwalnya perlahan mulai penuh dan terbagi antara bimbingan untuk mata pelajaran tambahan dan juga sekarang Ia harus latihan vokal.
Orang tuanya memang tidak melarangnya untuk tetap bernyanyi, hanya saja ingin agar Fino tidak menjadikan bahwa bernyanyi adalah sumber utama untuk masa depannya. Lampu-lampu studio menyala terang, di balik kaca tebal itu , beberapa orang duduk dengan headphone di kepala mereka. Produser, teknisi suara, dan staf label memperhatikan dengan fokus. Di dalam ruangan kedap suara, Fino berdiri di depan mikrofon, headphone menutup telinganya, tangannya mengepal pelan.
“Siap?” Fino mengangguk.
Musik mulai mengalun, suara Piano yang Lembut. Ia menarik napas panjang. Kemudian Ia bernyanyi dengan sangat lembut dan suaranya yang bening bisa membuat yang satu kali mendengarnya benar-benar menyukainya. Nada pertama keluar perlahan, begitu hangat dan bersih layaknya sesuatu yang mengalir tanpa dipaksa. Ruangan itu langsung berubah sunyi karena semua orang mendengarkan.
“Bagus.” gumam seseorang di balik kaca.
Ketika Fino mulai menyanyikan bagian reff dan sedikit menaikkan nada suaranya, nada tinggi itu keluar jernih, kuat, dan emosional hingga seseorang langsung menegakkan tubuhnya.
“Wow! It's amazing! I like it!”
Di akhir lagu, Fino menambahkan cengkok kecil yang memang Fino hanya ingin sedikit menambahkan saja. Namun tidak Ia sangka kalau suara itu bisa menggetarkan telinga para Produser yang langsung berdiri.
“Gila, ini benar-benar teknik yang bagus." Lagu selesai, beberapa detik hening, lalu pintu terbuka.
“Fino! Kamu sadar nggak barusan kamu ngapain?” Fino melepas headphone.
“Apa?”
“Cengkok itu! Itu bukan teknik biasa, itu feeling dari perasaan!” katanya antusias. Pujian berdatangan.
“Suara kamu benar-benar luar biasa, nada tinggi kamu bersih banget, emosinya juga dapat. Kamu layak jadi penyanyi!" Fino hanya diam, dibalik kaca Ia melihat orang tuanya tersenyum dengan bangga. Dan entah kenapa, senyum itu membuat dadanya terasa semakin sesak, Papanya ikut masuk ke ruangan Fino.
“Lihat kan? Papa bilang juga apa, kamu memang dilahirkan untuk ini,” Mamanya pun tersenyum, sedangkan Fino malah menunduk ragu.
“Aku hanya sekadar mengikuti alur lagunya aja ketika bernyanyi, tidak ada yang dilebih-lebihkan,"
“Hanya? Teknik yang kamu gunakan itu gak ada yang bisa melakukannya kecuali penyanyi yang sudah Profesional loh Fin,” ulang Papanya.
“Kami sudah mendaftarkan kamu untuk lomba vokal nasional bulan depan, Fino. Dan kamu harus ikut, ok?” Sahut Mamanya, mendengar itu Fino mengangkat kepalanya dengan dahi berkerut dan mata yang melebar karena terkejut.
“Lomba? Kenapa kalian tidak membicarakan padaku tentang ini lebih dulu? Bagaimana jika jadwal latihannya bentrok dengan bimbinganku untuk ujian sekolah, Pa, Ma?"
“Itu tidak akan terjadi, Fino. Kami sudah mengatur semuanya dengan sangat tertata. Jadi kamu cukup menurut saja."
Tidak ada pilihan dan hanya keputusan sepihak dari orang tua. Itu yang selalu terjadi di dalam hidup Fino. Fino merasa suaranya sendiri bukan miliknya, dan bahkan pilihannya sendiri tidak pernah didengar oleh orang tuanya.
_
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa jeda, sekolah, latihan, rekaman. Semua itu berulang tanpa henti dan membuat Fino semakin tertekan. Di kelas, Fino duduk tanpa benar-benar mendengar guru menjelaskan tentang pelajaran, kemudian di studio, Ia bernyanyi tanpa tahu lagi untuk siapa. Ia seperti hidup di dua dunia yang tidak benar-benar ada di keduanya. Hingga di suatu malam, Fino duduk di meja belajarnya, buku terbuka. Tapi huruf-huruf di dalam buku yang dia baca pun terasa kabur. Dadanya berat, napasnya tidak penuh.
“Fin?” suara Mamanya dari luar. Fino mencoba menjawab, namun saat Ia akan berdiri, dunia seperti berputar dalam pandangannya dan tiba-tiba gelap, tubuhnya pun terjatuh di lantai kamarnya.