Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #4

4. Nama Tersembunyi

Namanya Aurelia.

Langit sore berwarna jingga begitu lembut ketika Aurelia berdiri di depan gerbang sekolah yang kini perlahan mulai sepi. Hari kelulusan hampir selesai, banyak murid sudah pulang bersama keluarga atau teman-teman mereka. Namun Aurelia masih berdiri di sana, tangannya menggenggam tas dengan sedikit erat. Di dalam tas itu, ada sapu tangan kecil yang tadi sempat ternoda darah karena terbatuk ketika sedang bersama Fino. Perlahan dan tanpa diminta, air matanya pun keluar begitu saja. Di satu sisi Ia merasa sedih karena harus berpisah dari Fino karena hari ini adalah pertemuan terakhirnya dengan lelaki itu, di sisi lain juga Aurel tidak ingin jika lelaki itu mengetahui tentang sesuatu yang sedang dideritanya.

“Aurel,” Suara seseorang memanggilnya dengan begitu lembut, Aurelia segera menghapus air matanya dengan cepat sebelum menoleh. Itu ialah suara Lily yang sedang berjalan mendekat sambil menatapnya dengan ekspresi penuh rasa penasaran. Lily tahu segalanya, tapi Ia juga tidak bisa membantu Aurel.

“Kamu belum pulang?” Aurel menggeleng sembari tersenyum kecil.

“Belum, mungkin sebentar lagi, Ly. Aku masih ingin di sini," Lily memperhatikan wajah sahabatnya itu beberapa detik, Lalu tiba-tiba menyipitkan matanya bingung.

“Kamu kenapa?” Tanyanya.

“Hah?”

“Sepertinya kamu senang hari ini, tapi kenapa kamu juga menangis?" Aurelia tertawa kecil.

“Ini hari kelulusan, Lily. Siapa saja akan merasa senang sekaligus sedih, aku juga sedih karena kita akan terpisah," Lily mengerutkan keningnya.

"Tapi yang kulihat di matamu bukan tentang kita deh," tiba-tiba Aurel mengingat tentang Fino dan berkata,

“Memang bukan tentang kita, tapi tentang dia, senyumnya hari ini sangat berbeda," Aurel memalingkan wajahnya sedikit, seperti merasa malu-malu, Lily melipat tangan di dada sembari tersenyum melihat tingkah Aurel.

“Oh aku mengerti sekarang, kamu pasti habis ketemu Fino kan?” Aurelia tidak menjawab, sikapnya sangat mudah ditebak oleh sahabatnya itu. Namun ekspresinya sudah cukup memberi jawaban sehingga Lily langsung menghela napas panjang, sedangkan Aurelia sedikit tertawa.

“Lily...”

“Kamu suka kan sama Fino?” lanjut Lily tanpa basa-basi.

“Kenapa nggak terima aja sih? Fino baik banget loh, bahkan beberapa puisi itu... semuanya dikirim untukmu, Aurel. Kamu mengabaikan semua puisi itu tanpa balasan, dan sekarang...” sebelum Lily menyelesaikan kalimatnya, Aurel segera menyelanya.

“Justru karena dia terlalu baik, aku jadi tidak ingin mengecewakan Fino,"Lily mengerutkan kening.

“Mengecewakan? Kamu tidak akan mengecewakannya, aku yakin itu, Rel. Tapi kalau kamu begini terus, malah membuat Fino selalu bertanya-tanya tentangmu,” Aurel menunduk sedikit. Ada sesuatu di matanya yang terasa berat.

"Birkan saja begitu, Ly. Dan untuk puisi itu, tadi dia sudah menyanyikannya dalam sebuah lagu. Suaranya sangat dominan dan jernih, aku memang menyukainya. Tapi..." Aurel sengaja menjeda kalimatnya sebentar.

“Biarlah seperti ini, memang lebih baik kalau aku dan Fino tidak pernah benar-benar saling kenal," lanjutnya pelan, Lily menatapnya lama.

Lihat selengkapnya