Malam terasa sunyi di kamar Aurelia, lampu meja belajar menyala lembut, memantulkan cahaya hangat ke dinding kamar yang dipenuhi rak buku dan beberapa tanaman kecil untuk menambah estetika kamar tersebut. Jendela kamarnya sedikit terbuka, membiarkan angin malam masuk perlahan mengenai tubuhnya. Sembari sedikit memejamkan mata, Aurelia menghela nafasnya dan kembali membuka mata.
Ia berdiri di dekat jendela, di tangannya terdapat sebuah foto lama dengan background yang sudah sedikit memudar meskipun berwarna. Foto itu sudah agak kusut di sudut-sudutnya karena terlalu sering dipegang. Dalam foto itu, dua orang remaja berdiri berdampingan yaitu Fino dan Aurelia ketika masa MOS dulu.
Ketika semuanya masih terasa dekat, bukan asing. Fino dalam foto itu terlihat tersenyum lebar sambil sedikit membungkuk ke arah kamera. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru saja selesai menjalani kegiatan orientasi. Di sampingnya, Aurelia juga tertawa dengan begitu bahagia, belum ada jarak dan keheningan aneh di antara mereka. Aurelia menatap foto itu lama, kemudian bayangan masa lalu muncul secara perlahan.
***
Hari pertama menjalani masa orientasi siswa, lapangan sekolah penuh oleh siswa baru yang terlihat gugup. Aurelia berdiri di barisan dengan tangan menggenggam mapnya. Tiba-tiba seseorang di sampingnya berbisik di telinganya dan itu sedikit mengejutkannya.
“Kalau kakak kelas itu nyuruh nyanyi, kamu bisa nyanyi nggak?” Aurelia menoleh, itu adalah seorang anak laki-laki berdiri di sampingnya dengan wajah santai, Fino.
“Memangnya kenapa?” tanya Aurelia pelan. Fino mengangkat bahu.
“Aku nggak bisa nyanyi,” Aurelia menatapnya tidak percaya.
“Serius?” Fino mengangguk serius.
“Serius.”
Namun lima menit kemudian, saat kakak kelas benar-benar meminta salah satu siswa baru untuk bernyanyi, dengan keberaniannya, Fino pun maju ke depan dan itu membuat Aurelia terkejut bukan main karena sebelumnya Fino bilang tidak bisa menyanyi. Dan saat Fino mulai bernyanyi, seluruh siswa di lapangan terlihat menikmati suara Fino, sebagian ikut bernyanyi juga karena lagu yang dinyanyikan Fino itu milik artis terkenal . Suara Fino mengalun dengan jernih mengikuti irama musik yang diputar. Beberapa kakak kelas bahkan langsung bertepuk tangan karena kagum dengan suara Fino. Aurelia yang berdiri di barisan hanya bisa melongo, seperti orang belum sadar sepenuhnya. Setelah selesai, Fino kembali ke tempatnya dengan santai. Aurelia langsung menatapnya dengan sedikit kesal dan melipat tangannya di dada.
“Katanya nggak bisa nyanyi, tapi kok berani tampil di depan?” Fino tertawa kecil.
“Aku cuma nggak mau kalau itu disuruh, tapi bagus gak suaraku?" Aurelia sedikit memukul pundak Fino sembari tersenyum malu.
"Bagus!" Kemudian Ia berbalik badan membelakangi Fino yang ikut tersenyum senang.
"Mau gak foto bareng? Untuk kenang-kenangan sebelum kita dibagi kelas," bujuk Fino yang sudah membawa kamera polaroidnya. Aurelia kembali berbalik badan menghadap Fino.
"Boleh, tapi 1 kali saja ya," tiba-tiba Fino sudah memencet tombol potret, dan iku membuat Aurelia kesal.
"Hey... aku belum siap, tahu! Ulang gak!" Kemudian mereka berdua berpose bebas.
"Nih, langsung jadi fotonya," Fino memberikan foto yang sudah jadi itu pada Aurelia, tapi belum sempat diterima, Fino segera menariknya.