Fino membuka pintu rumah dengan langkah pelan, lampu ruang tamu menyala redup. Rumah besar itu terasa sangat sunyi, pertanda bahwa orang tuanya belum pulang dari kantor.
“Syukurlah…” gumamnya dengan menghela nafas lega.
Ia langsung menuju kamar di lantai dua, begitu pintu tertutup, Fino melempar tasnya ke kursi dan berdiri di depan cermin. Melihat luka di sudut bibirnya yang mulai berdarah, ketika tangannya menyentuh area itu, refleks membuatnya meringis. Pipi kirinya ternyata memar, ada juga bekas lebam tipis di rahangnya, tentu hal itu membuatnya sangat tidak nyaman.
“Randy benar-benar sudah gila. Apa memangnya salahku? Kalau memang si Maya itu mengagumiku, kenapa aku pula yg jadi kena pukul? Itu kan salah si Maya, harusnya dia marah pada Maya, bukan padaku." Gumamnya pelan dengan rasa kesal yang mendera. Ia masih tidak terima jika disalahkan sepihak dan dipukuli tanpa alasan yang tidak jelas.
Fino menghela napas sebentar, kemudian masuk ke toilet. Setelah mandi air hangat, ia kembali ke kamar dengan rambut masih sedikit basah. Duduk di kursi meja belajarnya sambil mengambil kapas dan obat luka dari kotak P3K kecil yang ada di kamarnya.
“Oke, pelan-pelan...” katanya pada dirinya sendiri. Ketika kapas itu menyentuh sudut bibirnya yang terluka, Ia pun merasa kesakitan.
“Ahh sial, perih banget!” Ia mendesis pelan. Tiba-tiba sepasang tangan menutup matanya dari belakang. Fino langsung tersentak ketika merasakan pergerakan itu.
“Ah!” Gerakan itu membuat luka di pipinya ikut tertarik sehingga membuatnya kembali berdesis kesakitan.
“Aduh... Siapa sih ini? Jangan bercanda!”
Tangan itu perlahan dilepas, seseorang kemudian membungkuk hingga wajahnya tepat berada di depan wajah Fino. Begitu pula dengan Fino yang perlahan mengangkat kepala, dan mereka berdua langsung membeku karena masing-masing merasa terkejut.
“Fino!”
“Lah? Kakak!!”
Perempuan di depannya adalah Meylani, kakak perempuannya Fino yang baru pulang dari luar negeri untuk kuliah. Rambutnya berwarna coklat tua, panjang bergelombang, dan wajahnya terlihat tegas, tapi matanya sekarang penuh rasa keterkejutan karena telah lama tidak bertemu Sang Adik dan sekarang harus melihat wajah Fino yang penuh lebam, Meylani langsung memegang dagu Fino untuk melihat lukanya.
“Ya ampun... Fino, siapa yang lakuin ini? Kamu habis berkelahi kah di kampus?” Fino segera menepis tangan Kakaknya dan mengelak.
“Gak kok, bukan apa-apa,"
“Kamu bohong, biar Kakak hajar balik dia besok!” Meylani menatapnya tajam, Fino dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Ga usah, Kak,”
“Fino,”
“Serius, cukup bantu aku untuk jangan ngomong ke Papa dan Mama aja kalau wajahku lagi begini,” Meylani menyipitkan mata.
“Hah... Baiklah, tapi ada syaratnya lho kalau itu,” Meylani menghela napasnya sebentar sebelum melanjutkan. Fino mengerutkan kening.
“Apa syaratnya?”
“Besok kan hari Minggu, Kakak pengen ke pantai dan bermain bareng Chanchan,” Meylani tersenyum menggoda. Dari luar kamar terdengar gonggongan kecil anjing peliharaan keluarga mereka.
“Tapi Kakak lagi males nyetir, kamu mau kan setirin mobil Kakak ke Pantai?” lanjut Meylani. Fino menatap kakaknya datar.
“Ya ya... sudah kuduga, selalu aja ada maunya.” Meylani langsung tertawa puas karena Fino menuruti apa yang dia mau.