Pagi itu, kampus masih terasa tenang, Fino berjalan santai melewati taman kampus sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket yang Ia kenakan. Luka di wajahnya sudah agak sembuh, tidak terlalu terlihat dan kulitnya cepat membaik. Udara pagi cukup sejuk, membuat suasana terasa nyaman sebelum kelas dimulai. Saat itulah matanya menangkap sesuatu di dekat bangku taman, yaitu sebuah gitar yang tergeletak begitu saja di samping tempat sampah, sedikit berdebu, seperti telah ditinggalkan pemiliknya. Fino berhenti tepat di depan gitar itu.
“Siapa yang membuang gitar di sini?”
Ia mengambil gitar itu perlahan, memeriksa senarnya, ternyata masih bagus. Memang sedikit cempreng dari suara gitar pada umumnya, tapi tidak rusak total. Fino duduk di bangku taman, memutar komponen pada kepala gitar sebentar, lalu mencoba memetik senarnya.
Jreng... jreng...
"Masih bagus kok, kenapa dibuang?" Fino masih bertanya-tanya meskipun tidak akan ada yang akan menjawabnya.
Nada sederhana mengalun, tanpa sadar, jemarinya mulai bergerak lebih lancar, Ia mulai menikmati suara gitar itu dan mulai menyanyi. Suara Fino mengalir lembut mengikuti angin pagi. Tidak terlalu keras, tapi cukup jelas untuk membuat orang yang lewat melambatkan langkah. Nada tinggi yang bersih muncul alami, beberapa mahasiswa mulai melirik ke arahnya dengan bertanya-tanya karena di arena kedokteran gigi seperti ini biasanya tidak boleh semarangan menyentuh barang yang sudah berdebu seperti gitar itu. Suasana taman mendadak terasa hangat karena suara Fino yang begitu enak didengar. Dari kejauhan, seseorang berhenti berjalan, yaitu Maya yang masih berdiri diam beberapa detik, mendengarkan dengan mata sedikit membesar. Setelah lagu selesai, Maya mendekat perlahan ke arah Fino.
“Itu... kamu yang nyanyi?” Fino menoleh dengan sedikit kaget.
“Oh? Iya, kebetulan aku menemukan gitar ini, menyanyi sedikit tidak masalah kan? Apa itu mengganggumu?" Dengan cepat Maya menggeleng.
“Tidak, justru suara kamu bagus banget,” Fino tersenyum kecil, agak canggung.
“Makasih, by the way, siapa namamu?”
"Maya."
DEG!
Fino lansung terkejut mendengar nama itu. Nama yang waktu itu pernah dikatakan oleh Randy waktu memukulinya.
“Kamu sering nyanyi ya?” Tanya Maya.
“Dulu, tapi sekarang hanya iseng aja sih,” jawab Fino dengan santai. Maya duduk di sebelah Fino.
“Kamu harusnya serius, karena jarang ada suara yang sebagus kamu," Fino tersenyum tipis.
"Tidak, aku hanya ingin menjadi dokter gigi saja."
Namun tanpa mereka sadari, dari kejauhan, seseorang memperhatikan, yaitu Randy. Tatapannya dingin namun tidak mau mendekati mereka, Sebaliknya, ia berbalik dan berjalan menuju sekelompok mahasiswa lain dengan senyuman liciknya.
“Kalian tahu Fino?” katanya santai. Beberapa mahasiswa langsung mendekati Randy.
“Kenapa?” Randy tersenyum tipis.
“Hati-hati aja.”