“Fin, serius kamu nggak tidur semalaman?” Arvin menatap Fino dengan wajah tidak percaya saat mereka duduk di kantin pagi itu. Fino hanya mengangkat bahu sambil mengaduk minumannya.
“Tidur sih memang, ya walaupun bentar doang,” jawabnya santai.
“Bentar itu berapa jam?” tanya Nadia.
“Satu jam... mungkin,”
“Gila, aku kalau satu jam itu belum masuk mimpi," gumam Kevin. Fino tersenyum kecil.
“Ya namanya juga latihan buat gigi kan? Emangnya kalian gak latihan juga di rumah?” Nadia menatapnya lebih serius.
"Latihan sih, dikit, tapi gak sampe mengorbankan jam tidur juga, Fin," sahut Nadia.
“Kamu yakin kuat untuk hari ini? Ini praktik pertama kita loh," peringat Nadia, Fino mengangguk.
“Tenang aja, aku udah siap semuanya kok,” Arvin menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kalau kamu gagal sih aku nggak percaya,” Fino tertawa kecil.
“Jangan ngomong gitu, nanti jadi doa.”
Namun di balik senyumnya, Fino sebenarnya merasa sedikit tegang. Semalaman ia berlatih membuat gigi palsu. Tangannya masih terasa pegal, matanya juga belum sepenuhnya segar, tapi ia tidak ingin mengeluh karena ini pilihannya sekarang, untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Ia bisa.
_
Ruang praktik terasa berbeda dari biasanya, semua mahasiswa berdiri di meja masing-masing. Alat-alat sudah tersusun rapi, bahan praktik juga sudah disiapkan, Dosen masuk dan langsung memberi instruksi pada mereka lebih dulu sebelum praktik dimulai.
“Hari ini kita akan melihat hasil kerja kalian, usahakan untuk fokus dan teliti, kesalahan kecil bisa mempengaruhi hasil akhir.”
Fino menarik napas pelan, Ia melihat alat-alat di mejanya. Semua terlihat normal dan terkendali, Fino sangay yakin itu. Sedangkan di sudut ruangan, Randy berdiri sambil memperhatikan Fino. Tatapannya dingin sembari tersenyum tipis.
“Mulai.”
Suara dosen membuat semua mahasiswa langsung bergerak. Fino mulai bekerja, tangannya bergerak hati-hati namun beberapa menit kemudian Fino mengerutkan kening.
“Kenapa bentuknya seperti gak pas ya?” Ia mencoba lagi. Tetap tidak presisi, selalu ada bagian yang kurang bagus, Ia menghela napas pelan.
"Ini aneh... semalam aku bisa membuat yang begitu presisi dan bagus, kenapa di sini justru gak bisa?' Batin Fino. Ia mengambil bahan lain dan segera mencoba ulang. Namun hasilnya tetap berbeda dari yang semalaman Ia buat. Tetap tidak tapi dan seimbang, Fino mulai merasa tidak nyaman. Tangannya bergerak lebih cepat dan sedikit panik.
“Fin? Kamu kenapa?” bisik Nadia dari meja sebelah, Fino menoleh sedikit kemudian menggeleng.
“Nggak tahu, ini aneh, Nad,”
“Aneh apanya?"
“Bentuknya nggak sesuai,” Nadia mengerutkan kening.
“Padahal kamu kemarin bilang udah lancar waktu latihan buat senidri di rumah?”Fino mengangguk.
“Iya makanya, sedangkan di sini malah sama sekali gak presisi." Nadia juga bingung melihat hasil gigi palsu yang diperlihatkan Fino padanya.
Semua mahasiswa mulai mendekati tahap akhir, namun Fino masih memperbaiki bagian-bagian yang menurutnya kurang bagus, Ia terus mencoba meskipun selalu gagal mendapatkan bentuk yang sempurna. Tangannya mulai gemetar, keringat muncul di dahinya.
“Ayolah, fokus Fino, fokus...” Gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, Dosen mulai berkeliling untuk memeriksa satu per satu hasil mahasiswa.
“Bagus.”
“Kurang rapi di sini.”
“Perbaiki bagian ini.”
Saat dosen mendekati meja Fino, Fino menahan napas. Dosen mengambil hasilnya dan seketika terdiam beberapa detik.
“Ini... tidak presisi,” Fino langsung menunduk.