Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #9

9. Batas yang Mulai Retak

Ruangan itu masih sunyi, begitu pula pertanyaan Fino yang seperti menggantung di udara begitu saja.

“Kalau aku bisa buktiin nilaiku naik di praktik ke dua, apa kalian akan berhenti mengatur hidupku?” Papanya tidak langsung menjawab. Mamanya saling pandang dengan Suaminya, lalu kembali menatap Fino dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Tidak!” Jawaban itu keluar dingin. Fino langsung membeku.

“Apa?” suaranya pelan. Ayahnya melangkah lebih dekat.

“Kami tidak akan mempertaruhkan masa depanmu hanya karena satu pembuktian sesaat,” Fino mengepalkan tangannya.

“Aku nggak minta kesempatan satu kali, tapi hanya minta kepercayaan,”

“Kamu belum pantas mendapatkannya,” kalimat itu langsung menghantam, Fino sedikit tersenyum.

“Jadi selama ini aku hanya robot ya?” Mamanya pun menghela napas.

“Fino, kamu jangan lebay,”

“Aku lebay? Mama ingat gak waktu kalian menekanku untuk masuk ke studi Kedokteran Gigi? Waktu itu aku hampir mati, Ma. Aku hanya mau berjalan di sesuatu yang sedang aku bangun sendiri,” Papanya memotong,

“Dan kami sudah memberi kamu kesempatan,”

“Kesempatan atau ujian?” sahut Fino cepat. Ruangan kembali tegang. Mamanya mulai kehilangan kesabaran.

“Kamu lihat hasilnya sekarang kalau nilai praktikmu itu tidak berhasil,"

“Aku bisa perbaiki! Karena hasil pertama ini aku tidak lulus bukan karena aku yang tidak siap, tapi ada kendala lain,”

“Lalu?” Fino terdiam beberapa detik, Ia hampir mengatakan semuanya. Tentang Randy dan alat yang ditukar. Tentang ketidakadilan itu, tapi ia menahan diri untuk tidak mengatakan pada orang tuanya.

“Aku cuma butuh waktu,” katanya akhirnya. Mamanya menggeleng.

“Kamu tidak punya waktu sebanyak itu, Mulai minggu depan, kamu fokus ke musik," Papanya menarik napas panjang. Fino langsung menatapnya tajam.

“Aku bilang aku nggak mau,” 

“Ini bukan pilihan,” sahut Fino yang kembali tersenyum miris.

“Selalu itu jawabannya, kalau gitu ya sudah,” Fino mundur satu langkah, Ayahnya mengerutkan kening.

“Maksud kamu?” Fino menatap mereka berdua. Matanya mulai merah, tapi suaranya tetap tegas.

“Aku akan tetap kuliah apapun alasannya,”

“Fino!” Bentak Mamanya

“Dan aku juga bakal buktiin kalau aku bisa,”Ayahnya menatapnya dingin.

“Kalau kamu tetap keras kepala, jangan harap kami akan membantu kamu lagi,” Kalimat itu membuat Fino terdiam beberapa detik. Namun ia tidak mundur.

“Ya sudah,” jawabnya pelan. Ibunya terkejut.

“Kamu serius?” Fino mengangguk.

“Kalau itu harga yang harus aku bayar ya aku terima,” Ruangan kembali sunyi. Papanya menatapnya lama lalu berkata,

“Kita lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan.”

_

Lihat selengkapnya