Fino menatap Randy tanpa mundur sedikit pun.
“Kalau iya... memangnya kenapa?” Pertanyaan itu masih terngiang di kepalanya bahkan saat keluar dari ruang praktik. Ia tidak menjawab waktu itu karena ia tahu, menghadapi Randy dengan emosi tidak akan menyelesaikan apa pun.
***
Malam itu, Fino pulang dengan langkah pelan. Begitu pintu rumah terbuka, suasana sudah terasa tidak nyaman, Lampu ruang keluarga menyala terang. Papa dan Mamanya sudah duduk di sofa, menunggu Fino berhenti sejenak, Ia tahu ini bukan kebetulan.
“Kamu dari mana?” tanya Papanya.
“Dari kampus,” jawab Fino singkat. Ibunya langsung menyela,
“Kami sudah dapat kabar lagi,” Jantung Fino langsung berdetak lebih cepat.
“Kabar apa?” tanyanya, meskipun ia sudah bisa menebak.
“Nilai kamu tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan,” Fino menahan napas.
“Aku lagi berusaha,”
“Berusaha terus!” potong Papanya yang seakan-akan nilai Fino yang terpantau itu akan menjadi patokan saja. Mereka terus mencari-cari kesalahan sampai Fino benar-benar keluar dari Kedokteran Gigi.
“Tapi hasilnya?” Fino diam. Ia tidak ingin berdebat, tapi ia juga tidak ingin menyerah.
“Aku butuh waktu,” katanya pelan, Mamanya menggeleng pelan.
“Kamu selalu bilang itu,” Papanya berdiri.
“Kami tidak melihat keseriusan di sini.” Fino langsung mengangkat kepala.
“Aku serius!”
“Serius?” ulang Papanya.
“Dengan nilai seperti ini?” Fino mengepalkan tangannya.
“Aku bisa perbaiki,”
“Kapan?” tanya Mamanya tajam.
“Atau kamu cuma mau terus berharap?” Fino menarik napas dalam.
“Aku nggak berharap, tapi aku sedang berusaha,” Namun Papanya tidak mendengarkan.
“Kami sudah bilang, kalau kamu tidak bisa membuktikan harus kembali ke musik,” Fino langsung menatapnya.
“Aku belum gagal,"
“Kamu sudah menuju ke kegagalan,” Suasana semakin panas.
“Kenapa kalian nggak pernah lihat dari sisi aku?” suara Fino mulai meninggi.
“Aku udah belajar, aku udah latihan, aku bahkan...”
“Cukup!” Bentakan itu membuat Fino terdiam.