Pagi itu, Fino tidak langsung berangkat ke kampus, meskipun Ia sudah memakai setelan seragam serba berwarna putih yang biasa dipakai di Mahasiswa Kedokteran Gigi, tapi Ia memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe kecil dengan papan nama sederhana yaitu Smile Cafe, Ia menarik napas pelan, kemudian masuk ke dalam. Ini adalah pertama kalinya Ia memasuki cafe milik Kakaknya sendiri. Suasana di dalam begitu hangat dan tidak terlalu ramai, sekali membuka pintu, aroma kopi langsung menyambutnya dengan sangat khas. Meylani melihat Sang Adik yang akhirnya mau untuk mampir ke cafenya, senyuman hangat pun langsung terukit di bibirnya.
“Wah, beneran ke sini ya?” tanyanya sambil tersenyum, Fino mendekat.
“Kan Kakak yang undang aku semalam, jadi aku mau numpang semangat dulu,” Meylani tertawa mendengarnya.
“Bagus! Duduk dulu sana, nanti Kakak buatkan minum.” Fino duduk di kursi dekat jendela, beberapa menit kemudian, Meylani datang membawa segelas minuman hangat.
“Ini, minum dulu untuk menenangkan pikiranmu sebelum praktik," Fino menatapnya.
“Ini apa?”
“Rahasia cafe,” jawab Meylani santai. Fino tersenyum kecil lalu meminumnya.
“Hmmm, lumayan enak sih," Meylani menyipitkan mata.
“Yakin hanya lumayan doang?”
“Hehehe, ya enak kok termasuknya,” Fino mengangkat bahu. Meylani duduk di depannya.
“Gimana? Apakah kamu benar-benar udah siap untuk praktik hari ini?” Fino menarik napas panjang.
“Harus siap lah, mau gimana lagi? Kalau bukan karena alat-alatku ditukar, pasti nilaiku sudah bagus," sahut Fino, Meylani menatapnya serius.
“Kamu masih takutkah kalau Randy akan punya rencana lain atau menukar alat-alatmu lagi?” Fino terdiam sebentar.
“Hanya antisipasi aja, aku hanya tidak ingin dia ikut campur dalam nilaiku lagi,"
“Sebenarnya kenapa sih Randy itu benci banget sama kamu?"
"Randy mengira aku yang telah merebut perhatian pacarnya yang namanya Maya. Ga tahu kenapa dia kemudian membenciku dan pengen nilaiku turun, dia memang sangat licik, bahkan yang memukuliku sampai wajahku memar waktu itu juga dia," Meylani yang mendengarnya pun semakin tidak terima.
“APA!! Jadi itu semua..."
"Iya, ya sudahlah, aku bisa menghadapinya, Kak, tenang aja,"
“Terus kamu?” Fino menatap meja.
“Kali ini aku ga akan mau lengah," Meylani mengangguk.
“Bagus, tapi ingat, jangan hanya fokus ke dia saja, tapi ke tujuan utamamu untuk bisa bertahan di Fakultas Kedokteran Gigi,” Ia mencondongkan tubuh sedikit, Fino mengangguk pelan.
“Iya, Kak, aku tahu itu kok. Papa dan Mama juga memantau melalui nilaiku, maka dari itu jika ada yang menghalangi aku tidak akan terima,”
“Dan kalau ada apa-apa, kamu tahu ke mana harus datang,” Fino tersenyum lembut.
“Ke sini lah,"
"Betul banget."
_
Di kampus khususnya Fakultas Kedokteran Gigi, suasana terasa berbeda dari biasanya. Beberapa Mahasiswa masih melirik Fino dengan tatapan aneh, namun kali ini Ia tidak terlalu peduli karena pada kenyataannya dia tidak salah. Fino pun langsung masuk ke kelas dan Arvin langsung menyapanya dengan melambaikan tangan.
“FIN!” Fino duduk di sampingnya.
“Pagi,” Nadia langsung menatapnya.