“Berhenti! Waktu sudah selesai.”
Suara dosen membuat semua mahasiswa menghentikan pekerjaan mereka. Fino langsung menegakkan punggungnya, tangannya dingin karena masih meragukan kemampuannya sendiri. Matanya tertuju pada hasil di depannya, Ia tahu kalau ada satu kesalahan kecil yang dilakukan tadi bisa sangat fatal dan membuatnya mendapat nilai di bawah standard lagi meskipun bagian itu sudah diperbaiki. Ia juga menyadari bahwa kali ini hasil membuat gigi palsu itu jauh lebih baik dari sebelumnya, Dosen mulai berkeliling dan memeriksa satu per satu.
“Bagus, perbaiki sedikit di sini.”
“Sudah meningkat.” Suasana tegang begitu terasa di seluruh ruangan.
Nadia menggigit bibirnya takut, begitu pula dengan Arvin yang melipat tangan sembari berdoa. Kevin hanya bisa diam dan mengamati saja meskipun di dalam hati, Ia juga sangat takut hasilnya akan membuat nilainya turun. Dan akhirnya dosen berhenti di depan meja Fino yang kini sedang menahan napasnya. Dosen mengambil hasilnya kemudian memperhatikan dengan serius. Beberapa detik masih tidak ada suara, Fino semakin menatap lurus ke hasilnya itu tanpa berani bicara apapun, hinga kemudian pernyaataan dari Dosen membuat hati Fino merasa tenang.
“Ini lebih baik dari yang kemarin kamu buat, bagus karena kamu benar-benar belajar dari kesalahan,” Fino langsung mengangkat kepala, Dosen melanjutkan kembali.
“Meskipun ini juga masih ada kekurangan kecil, tapi dibandingkan sebelumnya, ini peningkatan yang jelas,” Fino menelan ludah.
“Pertahankan seperti ini, benerin dikit aja ya,” Fino mengangguk cepat.
“Baik, Pak.” Dosen menuliskan sesuatu di kertas penilaian. Dan saat kertas itu dikembalikan, Fino melihat angkanya. Lebih tinggi dari sebelumnya, dan itu membuatnya langsung merasa lega.
'Ya Tuhan, syukurlah nilaiku naik!' Pekik Fino dalam hati dan dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya.
Mata kuliah praktik membuat gigi pun selesai, dan sekarang seluruh mahasiswa di kelas Fino sudah keluar dari lab, termasuk Fino sendiri dan para teman dekatnya.
“GIMANA?!” teriak Nadia yang kini bertanya pada Fino, lelaki itu pun hanya tersenyum lebar.
“Nilaiku naik!” Sahut Fino senang, mereka semua ikut senang termasuk Nadia yang langsung melompat kecil.
“SERIUS FIN! YA AMPUN AKHIRNYA!” Arvin pun menepuk bahu Fino senang.
“Kubilang juga apa, pasti kali ini bakal meningkat, Fin. Yang penting yakin dulu, bro,” balas Kevin sembari tertawa.
“Selamat ya, kita memang dokter gigi masa depan! Jadi kita harus berjuang bersama, tidak bolengah dan menyerah begitu saja!” Pekik Fino sembari sedikit tertawa.
“Hahaha, masih jauh ah, kan masih ada koas juga nanti di akhir. Sabar, kita masih di awal ini." Sahut Arvin, namun Fino terlihat lebih bahagia seperti satu masalahnya telah terselesaikan. Beban yang selama ini menekan terasa sedikit terangkat.
Di sisi lain lorong kampus, Randy berdiri diam dan melihat semuanya dengan tatapan yang penuh rasa benci. Tangannya mengepal erat.
“Nilainya naik,” gumamnya pelan. Wajahnya langsung berubah dingin.