Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #13

13. Dipanggil Dosen?

Hari ini meskipun masih pagi, Fino sudah bersiap untuk berangkat ke kampus seperti biasanya. Ia tidak terlalu memikirkan siapa orang yang Ia lihat ketika di cafe Kakaknya. Tas sudah berada di pundak, Ia melangkah dengan tenang. Fino tidak naik kendaraan karena memang jarak rumah dan kampusnya lumayan dekat, tidak perlu ditempuh menggunakan kendaraan apapun. Bagi Fino, jalan kaki juga bisa membuatnya sehat.

Ketika sampai di kampus, entah kenapa Fino merasa bahwa suasana terasa berbeda. Beberapa mahasiswa yang biasanya menyapa, lalu yang lain hanya melirik sekilas dan langsung mengalihkan pandangan. Bahkan ada yang berbisik dan tertawa seperti mengejek, Fino berhenti sebentar sembari mengernyitkan dahinya heran.

“Mereka pada kenapa sih? Aku berbuat salah lagi kah kali ini?” gumamnya bingung sembari mengecheck penampilannya sendiri.

"Ya memang sih, aku lupa pakai parfum hari ini, hehe." Sempat-sempatnya Fino sedikit tertawa mengingat itu.

Ia tetap berjalan dan berusaha mengabaikan semuanya, ketika sampai di depan kelas, Arvin sudah duduk, Nadia dan Kevin juga ada di sana, namun wajah mereka tidak seperti biasanya.

“Pagi,” sapa Fino.

“Pagi juga Fino.” jawab Nadia pelan, Fino langsung sadar.

“Kalian kenapa?” Arvin menghela napas.

“Fin, kali ini ada berita buruk,"

"Berita buruk apa? Memangnya ada apa sih? Tadi mahasiswa lain juga menatapku aneh," Kevin menatap sekitar, lalu mendekat sedikit.

“Nama kamu lagi dibahas memang sama mereka," Fino mengerutkan kening.

"Memangnya aku udah ngelakuin kesalahan apa?" Nadia langsung menjawab.

“Katanya nilai kamu naik itu karena hasil curang,” Fino mencoba mencerna ucapan Nadia.

“Hah?” Arvin segera menyahut.

“Ada yang bilang kamu tukar hasil atau dapet bantuan dari orang dalam,” Fino sedikit tertawa mskipun Ia tahu itu tidak lucu.

"Serius? Tapi kalian kan tahu sendiri kalau aku benar-benar belajar dan berjuang," Kevin mengangguk.

“Iya, kami tahu, Fin. Tapi mereka kan tidak tahu dan asal aja nyeplos begitu. Berita itu juga udah nyebar di seluruh Fakultas Kedokteran Gigi," Nadia menatapnya khawatir.

"Pantesan tadi mahasiswa lain pada mandang gak suka ke aku, ternyata karena ini?"

“Fin, ini nggak lucu.” Fino menatap meja. Tangannya perlahan mengepal.

“Ada lagi?” Mereka saling pandang, Kevin kembali menyahut.

“Ada juga yang bilang kamu deketin cewek orang, Fin,” Fino langsung mengangkat kepala.

“Maksudnya Maya? Pacarnya Randy itu?” Nadia mengangguk.

“Iya, katanya kamu sengaja cari perhatian dia," tambah Kevin. Fino menghela napas panjang.

“Gila, lengkap ya paketnya, sepertinya apapun yang kulakukan selalu salah di depan dia,” Ia menyandarkan tubuh ke kursi.

"Terus apa yang akan kamu lakukan, Fin?"

"Aku yakin ini semu aulah Randy lagi," sahut Nadia.

"Jelas, karena melibatkan Maya dan aku. Sepertinya dia cemburu kalau Maya mendekatiku."

Tiba-tiba, suara seseorang terdengar dari belakang. Orang yang mereka bicarakan pun datang dengan sendirinya.

“Kalian lagi bahas siapa? Pasti masalah tentang nilai Fino yang kata orang-orang curang itu ya?” Semua menoleh. Randy. Ia berjalan santai mendekat. Senyumnya tipis. Fino menatapnya tanpa ekspresi.

“Bukan urusanmu, masalah buatmu?” sahut Fino santai, Randy duduk di meja kosong dekat mereka.

“Masalah? Nggak ada, aku hanya heran aja,” sahut Randy pun menatap Fino dengan senyuman liciknya.

Lihat selengkapnya