Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #14

14. Nilai yang Ditahan

Pagi itu Fino berdiri di depan ruang dosen, tangannya sedikit dingin karena belum tahu apa alasan Dosen itu sampai memanggilnya, dalam pesan itu hanya tertulis laporan saja tanpa diberikan alasan yang jelas.

'Ada laporan serius tentang kamu, Fino.' Begitulah kira-kira isi pesannya. Fino menghembuskan napasnya sebentar sebelum mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk.” Fino membuka pintu perlahan.

Di dalam, ada dua dosen laki-laki paruh baya yaitu Dosen praktiknya, dan satu lagi yang ia kenal sebagai kepala laboratorium.

“Silakan duduk, Fino,” kata dosen praktiknya dengan nada tenang.

Fino pun duduk dengan menegakkan punggunggnya, namun tangannya saling menggenggam supaya tidak gugup jika ditanya-tanya. Suasana menjadi hening beberapa detik, kemudian dosen praktiknya itu mulai membuka pembicaraan.

“Kami memanggil kamu karena ada laporan yang masuk dan itu sangat serius, Fino,” Fino mengangguk pelan.

“Saya sudah dengar sedikit, Pak,” Kepala lab ikut bicara,

“Laporan ini berkaitan dengan hasil praktik kamu yang meningkat begitu cepat,” Fino menelan ludah.

“Baik, Pak,” Dosen menatapnya langsung.

“Ada dugaan bahwa hasil yang kamu kumpulkan kemarin ketika di ruang praktik itu tidak sepenuhnya hasil kerja kamu sendiri, apakah benar begitu?" Fino segera mengangkat kepala dan menjelaskan dengar benar.

“Saya buat sendiri, Pak. Bahkan alat praktik semuanya saya bawa dari rumah sesuai dengan yang Bapak arahkan," Nada suaranya tegas tanpa ada keraguan sedikit pun itu, karena Fino yakin bisa membuktikan bahwa apa yang dituduhkan Randy padanya adalah kesalahan, Dosen itu mengangguk paham.

“Kami tidak langsung menyimpulkan karena memang tahu kalau kamu bukan Mahasiswa yang berperilak tidak baik seperti yang lainnya,” Ia membuka beberapa berkas.

“Namun, kenaikan nilai kamu dianggap cukup signifikan dalam waktu singkat,” sahut Dosen kepala lab. Fino mengepalkan tangannya pelan.

“Saya memang berlatih, Pak,"

“Di mana kamu berlatih?” tanya kepala lab.

“Di rumah, Pak.”

“Sendiri?”

“Iya, kalau gak percaya tanya saja orang tua saya atau Kakak saya. Mama saya ada di rumah kok dan menyaksikan bahwa saya memang berlatih sendiri," Dosen saling pandang sebentar, kemudian kepala lab mengangguk paham dan kembali menatap Fino.

“Kami juga menerima laporan bahwa alat yang kamu gunakan sebelumnya tidak sesuai standar,” Fino langsung terdiam beberapa detik. Ia teringat apa yang dikatakan randy dan langsung paham siapa orang dibalik semua laporan yang dituduhkan padanya.

“Itu bukan saya, Pak.” Dosen mengangkat alis sedikit.

“Maksudnya?” Fino menarik napas.

“Saya merasa bahwa alat saya sempat diganti oleh orang lain karena saya juga melihatnya, tapi saya memang sudah menggantinya lagi ke yang sesuai aturan dari Bapak,” Kepala lab langsung fokus.

“Siapa yang berani menggantinya?” Fino terdiam. Hampir saja Ia mengatakan kalau itu Randy. Bukan berarti Fino tidak berani melaporkan balik Randy, Ia hanya tidak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut, maka dari itu Ia lebih memilih untuk menahan diri.

“Saya tidak punya bukti, Pak,” Ruangan kembali sunyi, Dosen menghela napasnya kemudian menutup berkasnya.

Lihat selengkapnya