Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #15

15. Tempat untuk Pulang

Suasana kelas terasa lebih dingin dari biasanya di pagi hari yang begitu cerah seperti sekarang ini, Fino baru saja masuk ketika beberapa mahasiswa langsung berbisik pelan.

“Itu dia...”

“Katanya nilainya ditahan.”

“Serem juga ya kalau ternyata bener curang.”

Jelas Fino mendengarnya, semua yang mereka bisikkan seperti sengaja untuk diperdengarkan padanya. Ia mencoba untuk mengabaikan semua itu dan memilih berjalan seperti biasa menuju tempat duduknya. Ketika ingin duduk di tempat duduk yang tersedia di kelas, seorang mahasiswa yang sekarang duduk di sebelahnya langsung memindahkan bukunya dan menyeret kursinya menjauh dari Fino.

“Oh gue pindah aja deh, males deket-deket dengan orang yang curang."

Kalimat itu sederhana tapi cukup untuk menusuk relung hati Fino pada saat itu juga. Fino diam beberapa detik, lalu duduk tanpa bicara apa pun. Tak lama kemudian Nadia datang dan langsung melihat kursi kosong di sekitar Fino.

“Kok sepi?” Kevin mendekat sambil mendecakkan lidah. Kemudian Nadia menyeret kursi kosong untuk duduk di sebelah Fino.

"Ya sudah mending aku aja yang duduk deket Fino," Fino pun sedikit tersenyum mendengarnya.

“Pada takut ketularan pintar mungkin mereka,” sahut Kevin. Beberapa mahasiswa langsung salah tingkah. Nadia menatap mereka tajam.

“Lucu banget sih kalian, kalau kalian iri dengan Fino bilang aja di depan, ga usah bisik-bisik di belakang tapi ngomongin orang,” sindir Arvin yang kemudian ikut duduk di depan Fino. Salah satu mahasiswa langsung berdiri.

“Kita hanya berhati-hati aja,"

“Hati-hati dari apa? Dari orang yang rajin berlatih untuk praktik?” tanya Nadia cepat.

“Kita nggak tahu yang sebenarnya seperti apa ya kan? Bisa aja memang benar kalau Fino curang karena membawa alat yang tidak sesuai standard waktu itu,” Kevin sedikit tertawa mendengar alasan tidak berdasar itu.

“Nah itu dia, kalian gak tahu tapi udah sibuk nge-judge,” Fino menghela napas pelan.

“Udah... kalian kenapa sih ngeladenin mereka?” Nadia langsung menoleh.

“Udah gimana? Mereka keterlaluan, Fin!” Fino tersenyum kecil.

“Udah, ga usah menghabiskan energi kalian, mending duduk aja, capek marah-marah terus.” Jawaban itu membuat mereka bertiga diam. Karena kali ini, Fino benar-benar terlihat lelah.

Kuliah pun dimulai, namun pikiran Fino kali ini benar-benar tidak fokus sama sekali, tatapan orang-orang masih terasa sampai sekarang. Bisikan kecil masih terdengar di telinganya, Dan yang paling mengganggu pikirannya sendiri adalah kalau praktik ulang nanti gagal, Kalau orang tua tahu? Bagaimana kalau kesempatan terakhir itu hilang? Fino memejamkan mata sebentar. Berusaha merasa tenang namun kepalanya terasa semakin penuh.

Pergantian jam mata kuliah, Fino memutuskan untuk duduk sendiri di taman kampus. Biasanya ia akan bercanda. Atau menjahili teman-temannya. Tapi sekarang Ia hanya diam, menatap kosong ke arah lapangan.

“Tumben sendirian, biasanya dengan teman-temanmu,” Fino menoleh, Maya berdiri di sana sambil membawa minuman kaleng.

“Oh? Iya, lagi pengen sendiri aja," sahut Fino, Maya duduk pelan di sampingnya.

“Kamu keliatan capek,” Fino tertawa kecil.

“Semua orang juga bilang gitu,”

“Karena memang keliatan dari wajah kamu,” Fino menatap ke depan lagi.

“Aku hanya lagi males ribut,” Maya terdiam sebentar. Lalu berkata pelan,

“Maaf ya,” Fino menoleh.

“Kenapa?”

“Karena semua ini mulai dari aku yang muji kamu, Randy jadi cemburu dan terus menyerangmu,” Fino langsung menggeleng.

“Bukan salah kamu kok,”

Lihat selengkapnya