Perjalanan pulang terasa sangat panjang bagi Fino. Padahal jalanan malam itu tidak terlalu macet, Ia duduk diam di kursi penumpang mobil Meylani sambil menatap ke luar jendela. Biasanya memang Fino yang menyetir, tapi karena sedang di mood yang kurang baik, Meylani memutuskan untuk menyetir sendiri saja tanpa melibatkan Adiknya dulu. Lampu-lampu jalan berlalu begitu saja dalam pandangan Fino meskipun pikirannya tetap penuh entah itu tentang nilai yang ditahan dan Randy yang selalu menganggu hidupnya. Dan sekarang orang tuanya sudah tahu semuanya, membuatnya semakin takut menghadapi semua itu. Meylani melirik adiknya beberapa kali yang terlihat melamun.
“Fin," Fino menoleh pelan.
“Hm?”
“Kamu takut kah?” Fino tertawa yang terdengar lelah.
“Entahlah, Mama Papa kan memang selalu begitu,” Meylani menghela napas.
“Kamu jangan langsung ngalah nanti untuk menghadapi Mama dan Papa," Fino diam.
“Denger nggak?”
“Iya," Meylani kembali fokus menyetir.
“Apa pun yang terjadi kamu harus tetap tenang dalam menjawabnya,” Fino tersenyum tipis.
“Ya kalau mereka tenang juga, mereka hanya bisa marah-marah ketika nilaiku turun atau tidak sesuai yang mereka mau." Meylani langsung paham maksudnya dan itu membuatnya ikut diam.
Begitu mobil masuk ke halaman rumah, Fino langsung tahu suasana malam ini tidak akan baik-baik saja. Lampu ruang keluarga masih menyala terang, menandakan bahwa Mama dan Papanya sudah pulang, Papanya sudah berdiri di dekat sofa dan Mamanya duduk dengan ekspresi wajah tegang. Fino menarik napas panjang, lalu masuk ke dalam rumah.
“Papa,” Belum sempat ia melanjutkan, Papanya segera mengisyaratkan menggunakan dagunya.
“Duduk.” Suara Papanya begitu dingin seperti hembusan angin malam yang menerobos masuk ke rumah mereka. Fino langsung duduk perlahan, Meylani ikut masuk dan berdiri tidak jauh dari sana, Papanya menatap Fino tajam.
“Jadi ini hasil dari perjuangan kamu?” Fino diam, Ibunya menyela dengan nada kecewa,
“Mama benar-benar malu, Fino," Dadanya langsung terasa sesak.
“Aku nggak curang, Ma,” Papanya sedikit tertawa.
“Tapi nama kamu sekarang dibahas di kampus,”
“Itu karena ada yang fitnah aku!”
“Lalu kenapa bisa sampai seperti ini?” bentak Papanya, Fino mengepalkan tangannya.
“Aku juga lagi berusaha cari tahu!” Ibunya berdiri.
“Papa dan Mama menyekolahkan kamu mahal-mahal bukan untuk jadi bahan fitnah kampus!” Kalimat itu langsung menghantam ulu hatinya, Fino menunduk sebentar lalu berkata pelan.