Sudah hampir tengah malam, tapi lampu kamar Fino masih menyala, Ia duduk di depan meja belajar dengan rambut berantakan dan mata lelah. Beberapa alat praktik berserakan di meja. Tangannya masih fokus membentuk detail kecil pada gigi tiruan, pelan dan teliti. Selain itu, Ia juga mempelajari metode scaling dan yang lainnya untuk tambahan misal sewaktu-waktu dosen atau orang yang berniat jahat padanya ternyata juga ingin membuat nilainya buruk atau memfitnahnya. Namun wajahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya, pintu kamar terbuka pelan, Meylani masuk sambil membawa segelas susu hangat.
“Belum tidur?” Fino tidak langsung menjawab masih fokus. Beberapa detik kemudian baru ia bersuara,
“Belum bisa,” Meylani mendekat.
“Kamu dari tadi belajar terus,” Fino menarik napas panjang.
“Aku nggak punya pilihan lagi, Kak. Papa dan Mama yang memaksaku untuk jadi seperti ini," sahut Fino, memang sedikit ketus tapi ini demi dirinya sendiri. Kalimat itu membuat Meylani diam, Ia menaruh gelas di meja.
“Fin,”
“Aku nggak boleh gagal. Karena kalau aku sampai gagal kali ini, semuanya akan selesai, Kak,” Tangannya berhenti bergerak, Meylani menatap adiknya lama kemudian mengusap pelan rambutnya.
“Jangan terlalu maksain diri,” Fino tersenyum kecil.
“Kalau terlalu santai aku hanya takut kalah,"
"Gak usah takut, ada Kakak yang selalu di belakangmu." Fino mengangguk pelan.
Keesokan harinya di kampus, suasana masih sama seperti hari kemarin yang penuh dengan bisikan, tatapan tajam, dan bahkan beberapa senyum sinis. Fino berjalan masuk kelas sambil membawa buku tebal miliknya sendiri tentang kedokteran gigi. Tepat pada saat Ia lewat, beberapa mahasiswa langsung berkomentar pelan.
“Hati-hati kalau alat-alat medisnya ketukar lagi.”
“Iya, bener, nanti kita juga yang kena."
“Jangan-jangan nanti praktik ulang juga curang.” Fino mendengar semuanya.
Jelas, tangannya perlahan mengepal tapi ia tetap berjalan. Nadia langsung berdiri begitu melihat wajah Fino berubah.
“Apaan sih kalian?!” Salah satu mahasiswa langsung membalas,
“Kita hanya bercanda, takutnya kan begitu,”
“Bercanda kepala kalian itu bercanda!” sahut Nadia, Kevin ikut mendekat.
“Lucu banget ya bisa ngeremehin orang gitu aja?" Sindir Kevin, sedangkan Arvin menatap Fino.
“Udah, duduk sini aja.” Fino duduk pelan, Ia mencoba terlihat biasa, meskipun pikirannya terasa berat.
Di sisi lain kelas, Randy tersenyum tipis sambil memperhatikan semuanya, namun kali ini Nadia mulai sadar sesuatu. Ia melihat Randy sempat bertukar pandang dengan seorang mahasiswa laki-laki di belakang, tatapan mereka aneh. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu, Nadia menyipitkan mata.
“Vin,” Arvin menoleh.
“Kenapa?”
“Itu anak belakang, dia sering bareng Randy nggak sih?” Arvin melirik sekilas.
“Oh iya,” Kevin ikut melihat.
“Tapi tunggu...” Ia berpikir beberapa detik.
“Bukannya dia waktu praktik sempat ada dekat meja Fino ya?” Nadia langsung menoleh cepat.
“Hah?” Arvin ikut mengingat.