Bayangan di Rooftop dari mereka bertiga juga angin malam di rooftop terasa begitu dingin. Namun suasana di sana jauh lebih dingin lagi karena Fino masih berdiri dengan diam. Tatapannya lurus ke arah Randy yang masih bersandar santai di dekat pintu rooftop. Senyumnya tipis, namun semua ini hanyalah permainan kecil baginya. Sementara mahasiswa laki-laki yang tadi bicara dengan Fino langsung terlihat panik.
“A-aku pergi dulu...” Ia mundur beberapa langkah. Fino langsung menoleh cepat.
“Tunggu dulu!” Namun mahasiswa itu sudah menggeleng.
“Maaf, aku nggak bisa ikut campur.”
“Kalau kamu memang lihat sesuatu, bilang aja!” Sahut Fino tegas. Mahasiswa itu terlihat semakin gugup. Tatapannya bahkan tidak berani mengarah ke Randy.
“Maaf...” Dan setelah mengatakan itu, Ia langsung pergi meninggalkan rooftop. Fino mengepalkan tangannya kuat.
“Eh!”
Namun pintu rooftop sudah tertutup, sekarang tinggal Fino dan Randy saja, suasana mendadak terasa jauh lebih menyesakkan, Randy menampilkan senyuman liciknya.
“Kasihan ya dia,” Fino langsung menatapnya tajam.
“Lo ancem dia?” Randy mengangkat bahu santai.
“Nggak tuh,”
“Bohong,”
“Kalau nggak punya bukti, hati-hati kalau mau nuduh orang,” Randy mulai berjalan mendekat perlahan. Kalimat itu langsung membuat rahang Fino mengeras. Padahal jelas-jelas Randy yang memang sedang mempermainkannya.
“Kenapa lo lakuin ini? Lo gak kasihan sama dia?” tanya Fino pelan. Randy berhenti.
“Lakuin apa?”
“Jangan pura-pura nggak tahu deh,” Randy tertawa kecil lagi.
“Lucu ya, sekarang kamu mulai merasa jadi korban?” Fino melangkah maju.
“Nilai gue ditahan gara-gara fitnahan yang lo tuduhin, tahu gak!”
“Terus?”
“Terus lo masih tanya kenapa gue marah?!” Suara Fino mulai naik, tapi Randy justru terlihat tenang seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali. Itu malah membuat semuanya terasa lebih menyeramkan, Randy menatap Fino beberapa detik.
“Karena gue gak suka ngelihat orang kayak lo,” Fino mengernyit.
“Maksud lo?”