Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #19

19. Keadaan Membaik tapi bikin Bimbang

Beberapa minggu berlalu dengan cepat, hidup Fino mulai terasa lebih tenang dari biasanya. Praktik demi praktik berhasil Ia lewati dengan baik dan nilainya selalu naik dengan bertahap, Bahkan Randy pun sudah tidak bisa lagi menggangunya, beberapa dosen yang tadinya terlihat ragu sekarang mulai kembali percaya padanya.

“Bagus, Fino. Kamu benar-benar berusaha dengan keras sehingga hasilnya sebagus ini, saya bangga denganmu,” Kalimat itu akhirnya kembali ia dengar dari dosen praktik. Hari itu mereka sedang praktik untuk scaling dan bleaching gigi, Fino berhasil menyelesaikannya lebih cepat dibanding mahasiswa lain. Dosen sampai mengangguk puas sambil melihat hasil kerjanya.

“Detailnya sangat rapi dan begitu bersih dari lua dan dalamnya, pertahankan ya,"

“Iya, Pak, terima kasih.” Fino tersenyum kecil. Di belakangnya, Nadia langsung berbisik heboh.

“Hey, akhirnya dosen muji kamu lagi!” Kevin tertawa.

“Setelah drama yang benar-benar bikin muak, untung si Randy ga berulah lagi,” Arvin ikut menepuk bahu Fino.

“Gue bilang juga apa, lu emang multi talenan, Fin,” Fino langsung tersenyum lebar mendengar teman-temannya yang mulai bercanda padanya.

"Emang boleh ya se-talenan itu?" Sindir Kevin.

"Talenan gak tuh? Hahahaha," Nadia juga tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Mereka semua mulai mengeluarkan humornya.

“Makannya jangan dipuji terus, nanti gue sombong,” sahut Fino.

“Idieeehhh, Biasanya ciri-ciri cowok NPD begini nih, HAHAHAHAHAH,” kata Nadia lega.

"Ya gak NPD juga kali Nad, issh! Orang ganteng dan banyak yang mau gini dibilang NPD," jawab Fino kesal sembari membenahi rambutnya di cermin ruang kelas.

"Nah kan, sifat NPDnya mulai keluar tuh." Sahut Kevin, semuanya pun tertawa.

Karena memang akhir-akhir ini Fino mulai kembali seperti dulu seperti bercanda, menjahili teman-temannya, dan suasana kelas yang sempat aneh perlahan kembali normal. Orang-orang yang menyindir dengan kalimat tidak baik ke Fino karena asumsi dari Randy pun mereka sudah tidak lagi membenci Fino.

_ _ _ _

Siang hari setelah kelas selesai, Fino memutuskan pergi ke mall untuk membeli beberapa kebutuhan praktik. Ia berjalan santai sambil memakai hoodie hitam dan masker tipis, ponselnya terus berbunyi antara Notifikasi TikTok, DM Instagram, bahkan email, semuanya tentang musik. Video nyanyinya ternyata semakin vira, Followers-nya naik sangat cepat, hingga beberapa akun besar mulai membahas dirinya.

“Ini mahasiswa kedokteran gigi atau idol?”

“Visual oke, suara gila.”

“PLEASE DEBUT.” 

Fino hanya bisa menghela napas sambil mematikan layar ponselnya, Ia masih belum tahu harus bagaimana. Di satu sisi, Ia senang orang-orang menyukai suaranya, namun di sisi lain juga mulai menyukai dunia kedokteran gigi yang sedang ditempuh.

“Pusing banget aku mikirin dua pilihan ini." Gumamnya pelan, Fino mengurut keningnya. Saat sedang berjalan melewati area bookstore, langkahnya tiba-tiba berhenti.

"Aku sepertinya membutuhkan buku untuk materi baru tentang gigi, ke sana aja deh."

Ia pun melanglanglahkan kakinya menuju bookstore tersebut, kemudian memilih buku yang Ia cari, matanya sedikit melebar karena di depan sana ada seseorang yang sangat Ia kenal dengan rambutnya panjang, tubuh kurus, dan wajah yang pucat. Itu adalah Aurelia yang di dalam sana sedang memegang beberapa buku langsung membeku saat melihat Fino. Beberapa detik, mereka hanya saling diam, Canggung, Sangat canggung, Fino akhirnya berjalan mendekat perlahan.

“Aurel,” Aurel terlihat gugup.

“H-hai... Fino,”

“Kamu sehat?” Pertanyaan itu terdengar bodoh. Karena jelas sekali wajah Aurel terlihat tidak sehat. Namun Aurel tetap tersenyum kecil.

“Aku baik kok,” Fino menggaruk lehernya canggung.

“Udah lama nggak ketemu ya kita,”

Lihat selengkapnya