Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #20

20. Dua Jalan yang Berbeda

“Kali ini kamu tidak boleh beralasan sakit lagi seperti waktu itu, mengerti?”

Kalimat ayahnya terus terngiang di kepala Fino bahkan sampai malam berganti pagi.

Ia hampir tidak tidur, pikirannya terlalu penuh tentang produser, musik, kuliah, dan dirinya sendiri. Fino benar-benar bingung dengan hidupnya.

***

Pagi hari di kampus, biasanya Fino adalah orang paling sering membuat keributan di kelas, namun kali ini dia diam seperti waktu itu. Duduk sambil menatap kosong ke arah jendela. Kalau sudah seperti itu, tandanya dia sedang mendapat masalah, Nadia yang baru datang langsung mengernyitkan keningnya.

“Tumben nggak nyebelin seperti biasanya, lagi ada masalah kah?” Tanya Nadia, Kevin ikut duduk di sekitar mereka.

“Iya deh, fix ini sih bukan Fino,” sahut Arvin sambil sedikit tertawa.

“Kayaknya otaknya lagi error tuh.” Balas Kevin, namun Fino hanya tersenyum tipis dan sekilas saja, tidak membalas seperti biasanya, mereka langsung saling pandang satu sama lain, Nadia pun pindah duduk di samping Fino.

“Fin, kamu kenapa lagi?” Fino diam beberapa detik kemudian menghela napas panjang.

“Gue juga nggak ngerti diri gue sekarang,” Kalimat itu langsung membuat mereka bertiga diam karena suara Fino terdengar benar-benar lelah, Kevin mengernyit.

“Masalah rumah lagi?” Fino tertawa kecil hambar.

“Masalah hidup yang semakin membuat gue bingung,” Arvin langsung menyandarkan tubuh.

“Waduh berat nih sepertinya,” Nadia menatapnya serius.

“Cerita dong, kenapa memangnya? Kepo nih teman-temanmu,” sahut Nadia, Fino memijat pelan keningnya.

“Produser musik yang kemarin itu DM lo lagi?” Fino mengangguk.

“Gak hanya itu, tapi mereka juga ngehubungin orang tua gue,” seketika Nadia, Kevin, dan Arvin langsung melebarkan matanya tak percaya.

“Hah?!”

“Mereka mau ngajak gue serius dalam karier bermusik,” Kevin langsung melongo.

“BRO ITU GILA, tapi bagus juga untuk masa depan lo dalam jangka panjang," sahut Arvin.

“Tapi gue malah makin pusing,” Nadia mengernyit.

“Iya, bukannya itu bagus, Fin?” Fino menatap meja.

“Dulu gue benci dipaksa musik,”

“Tapi suara lo bagus, Fin, dan itu juga bakat lo dari TK kan?”

“Tapi sekarang?” Fino terdiam.

"Entahlah."

Hari itu praktik berjalan cukup lancar, mereka sedang belajar tentang restorasi gigi sederhana, Fino terlihat jauh lebih fokus dibanding sebelumnya. Tangannya stabil, gerakannya rapi, bahkan dosen sempat memperhatikan hasil praktiknya cukup lama.

“Fino,”

Lihat selengkapnya