Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #21

21. Semakin Drop

“Aku akan terima tawarannya.” Itu adalah keputusan besar yang telah diambil oleh Fino semalaman.

Dan kini Ia datang lagi ke ruang meeting bersama produser itu. Seketika suasana ruang meeting langsung hening. Papa Fino yang tadi duduk bersandar langsung tersenyum puas. Sementara produser di depan mereka terlihat tertarik.

“Itu keadalah pilihan yang sangat bagus!" Namun Fino melanjutkan kalimatnya.

“Tapi aku tetap lanjut kuliah kedokteran gigi, aku tidak bisa meninggalkan kuliahku begitu saja hanya karena karier menyanyi ini," Senyum Papanya perlahan memudar.

“Hah?” Produser itu pun juga terlihat sedikit terkejut.

“Kamu mau menjalani dua-duanya?” Fino mengangguk pelan.

“Aku nggak mau ninggalin salah satunya," Papanya langsung menghela napas kasar.

“Fino, dunia hiburan itu bukan main-main,”

“Aku tahu, Pa,”

“Kalau kamu nggak fokus, hasilnya juga nggak akan maksimal,” Fino menatap Papanya tenang.

“Kalau aku menyerah sekarang, aku bakal nyesel,” Produser itu justru tertawa kecil.

“Tidak apa-apa, Tuan Johan, kalau memang Fino maunya gitu tidak masalah,” Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Biasanya orang akan langsung meninggalkan kuliahnya kalau dapat kesempatan seperti ini, tapi kalau kamu yakin sanggup, saya akan menyetujuinya,” Tuan Johan, yaitu Papanya Fino langsung menoleh cepat.

“Tapi..."

“Santai aja, Pak, kita lihat dulu sejauh apa anak Bapak ini kuat.” Dan sejak hari itu, hidup Fino benar-benar berubah.

_

Hari ini, sekitar pukul 06.30 pagi, Fino datang dan menyusul teman-temannya di kantin, sedikit memakan siomay di mangkuk Nadia yang belum habis. Nadia yang tahu itu pun pangsung menoleh, ternyata itu Fino, si manusia jahil yang baru saja datang.

“Hehe, aku minta ya, belum sarapan bikin perutku gak enak,” kata Fino sembari menyeret bangku kantin dan langsung duduk.

“Santai aja, mau kupesenin juga yang sama?” Tanya Nadia.

“Mauu,”

“Ok, duduk di sini, jangan kemana-mana,”

“Siap, btw, ada berita apa nih?” Kata Fino yang meskipun matanya ngantuk tapi tetap mau up to date.

"Ga ada sih, hanya saja nanti kita praktik lagi," kata Kevin sembari mengaduk makanannya.

"Udah biasalah itu, kita kan udah semester 6 sekarang, jadi ya isinya praktik terus," sahut Arvin.

"Apalagi aku dengar-dengar kabar kalau nanti setelah kita Ujian Praktik yang ini, di semester 7 kita ada praktik langsung ke manusia," seketika Fino berhenti mengunyah kerupuk yang ada di depannya.

"Maksudnya manusia gimana?"

"Ya langsung nanganin orang, Fino,"

"Mana bisa begitu? Bukankah harusnya prosedurnya manekin dulu?" Tanya Fino yang masih mengerutkan keningnya bingung.

Lihat selengkapnya