.
Suasana di lorong Rumah Sakit sangat dingin, Meylani berjalan ke sana kemari gelisah karena Adiknya masih diperiksa di dalam sana. Tak lama, langkah cepat terdengar dari ujung lorong, para teman-teman kuliah Fino pun datang dengan wajah panik.
“Fino mana, Kak Mey? Bagaimana keadaannya?” Nadia langsung berdiri.
“Masih diperiksa...” mereka pun duduk di lorong tunggu itu dengan gelisah pula.
“Dari kemarin aku udah bilang jangan terlalu maksain diri, tapi Fino memang menyukai keduanya, antara bakatnya sebagai penyanyi dan kuliahnya di kedokteran gigi,” suara Kakak Fino itu mulai melemah di akhir kalimat.
"Iya, Kak. Fino juga sering bilang gitu ke kita, padahal kalau pilih salah satu dia tidak akan seperti ini," sahut Nadia.
"Tolong doakan Fino ya, supaya dia bisa dengan pilihannya dan bisa memilih salah satu saja supaya tidak kecapean lagi menjalani keduanya." Kata Meylani, teman-teman Fino pun mengangguk. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan, mereka langsung menghampiri dokter tersebut.
“Keluarga pasien?” Meylani segera mengangguk.
“Siapa keluarga pasien?”
“Saya Kakaknya,” jawab Meylani cepat.Dokter menghela napas pelan.
“Pasien mengalami kelelahan fisik yang cukup parah,” Meylani langsung menegang.
“Kurang tidur, stres tinggi, pola makan tidak teratur, dan aktivitas berlebihan,” Kevin langsung menunduk karena semua itu memang benar, Dokter kembali berkata serius.
“Kalau terus dipaksakan seperti ini, tubuhnya bisa kolaps lebih parah,” kalimat itu langsung membuat suasana hening.
Nadia sampai menggigit bibirnya sendiri ketika mengerti kondisi Fino sekarang, sementara Meylani terlihat benar-benar terpukul. Karena akhirnya, ucapan yang paling Ia takutkan keluar juga. Beberapa saat kemudian, Mama dan Papa Fino datang dengan wajah panik.
“Bagaimana keadaan Fino?” Dokter menjelaskan ulang kondisi Fino.
Papa Fino hanya diam, tidak ada niatan untuk membantah sedikitpun itu maupun marah, Ia hanya melihat ke arah pintu ruang rawat dengan wajah sulit dijelaskan. Baru sekarang Ia sadar seberapa jauh Fino memaksakan dirinya, Ibunya bahkan terlihat berkaca-kaca.