Di Balik Suara Fino

Nurul Adiyanti
Chapter #23

23. Terlambat

Setelah Fino pulang dari rumah sakit, sekarang Ia sedang serius mengerjakan tugas kuliah di cafe Kakaknya.

“Fin, makan dulu.” Meylani menaruh semangkuk makanan di meja cafe. Namun Fino hanya mengangguk kecil sambil fokus melihat laptop.

“Aku bentar lagi latihan, Kak,”

“Kamu dari tadi belum makan,”

“Nanti aja.” Meylani langsung menghela napas karena jawaban itu sudah terlalu sering Ia dengar. Fino sekarang lebih kurus, lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas dan kadang Ia sampai tertidur sambil duduk. Namun anak itu masih tetap memaksa dirinya berjalan.

“Fin,”

“Hm?”

“Kamu jangan sampai tumbang lagi ya, Kakak gak mau kamu sakit lagi. Kamu gak lihat tuh tubuhmu semakin kurusan,” Fino tersenyum kecil.

“Gak masalah, Kak. Yang pentingkan aku masih hidup,” Meylani justru makin khawatir mendengar cara Fino bercanda seperti itu.

"Jangan bicara begitu lagi! Gak mau tahu, kamu harus makan, atau Kakak suapin nih," Fino pun sedikit tertawa, kemudian mengangguk setuju kalau Meylani menyuapinya sembari mengerjakan tugas.

***

Di sisi lain, Aurel duduk di dekat jendela kamarnya. Tubuhnya semakin kurus. Wajahnya pucat. Dan batuknya kini semakin sering. Namun di tangannya masih ada sapu tangan kecil bersulam huruf “F”. Perlahan, gadis itu tersenyum kecil sambil melihatnya. Di meja belajarnya masih tersimpan rapi tentang puisi-puisi dari Fino, foto mereka saat MOS, dan beberapa chat singkat dari Fino.

Walaupun sekarang balasan Fino semakin pendek karena kesibukan yang tak berujung antara kuliah dan kariernya sendiri, bahkan untuk menghubungi Aurel pun juga semakin jarang, namun Aurel tidak pernah marah karena ia tahu bahwa Fino sedang berjuang keras dengan hidupnya sendiri. Ponselnya berbunyi, balasan dari Fino mulai membuat hati Aurel sedikit meluluh. 

Aurel:

Jangan lupa makan.

Fino:

Iya hehe.

Aurel tersenyum kecil, Namun beberapa detik kemudian Ia batuk cukup keras. Sampai ada noda darah di telapak tangannya. Dan senyum itu perlahan menghilang. 

_

Malam harinya, Aurel akhirnya memberanikan diri mengetik pesan lagi. Tangannya sedikit gemetar, namun ia tetap mengetik perlahan.

Aurel:

Fino… kalau kamu sempat, aku pengen ketemu.

Pesan itu terkirim, Aurel menunggu beberapa menit lalu akhirnya balasan dari Fino pun masuk.

Lihat selengkapnya