Sudah seminggu sejak pemakaman Aurel, tapi bagi Fino rasanya seperti baru terjadi kemarin. Rutinitasnya masih berjalan seperti biasanya yang seperti tanpa henti untuknya bertahan pula antara kuliah, praktik, latihan vokal, dan tampil dari panggung ke panggung. Meskipun begitu, ada sesuatu yang berbeda sekarang, Fino tidak lagi banyak tertawa.
"Fin," Nadia melambaikan tangan di depan wajahnya. Fino yang sedang melamun langsung tersentak.
"Hah?"
"Kita dari tadi manggil kamu loh, Fin," Arvin memperingatkan karena sejak tadi Fino terlihat seperti orang linglung yang sedang memangku tangan sembari melamun, pikirannya seperti sedang kosong.
"Oh,"
"Oh doang?" protes Kevin. Arvin ikut menggeleng.
"Sumpah, aku kangen Fino yang nyebelin. Kamu kenapa sih sebenernya? Kurasa dari kemarin kamu jadi aneh, apa karena tentang menyanyi lagi? atau kali ini karena jadwal panggung yang padat?" Biasanya kalau ada yang ngomong begitu, Fino pasti langsung membalas, tapi untuk sekarang responnya hanya tersenyum tipis dan kembali menatap buku praktiknya. Teman-temannya pun saling pandang satu sama laib dengan tingkah aneh Fino dari hari ke hari. Mereka semua sadar bahwa kehilangan Aurel meninggalkan luka yang tidak kecil untuk Fino.
Sore harinya ketika pulang kuliah, seperti biasa yaitu Fino langsung ke Cafe Smile, Meylani sedang menyusun beberapa gelas di dekat kasir. Begitu melihat adiknya masuk, Ia langsung tersenyum.
"Mau pesan apa? Udang saus padang?" Biasanya mata Fino akan langsung berbinar. Namun sekarang Ia hanya mengangguk pelan.
"Boleh."
Meylani langsung merasa tidak enak karena sejak kecil kalau ada makanan favorit Fino, anak itu pasti akan terlihat antusias. Tapi sekarang tidak, saat makanan datang Fino hanya makan beberapa suap. Lalu berhenti, Meylani mengernyitkan keningnya bingung.
"Kenyang?" Fino mengangguk, padahal biasanya piring itu sudah bersih dalam hitungan menit. Meylani akhirnya duduk di depan adiknya.
"Masih kepikiran tentang Aurel?" Fino tidak langsung menjawab, Ia menatap piringnya cukup lama lalu mengangguk.
"Sedikit," Meylani tahu itu bohong. Karena wajah adiknya sudah menjawab semuanya.
"Aurel udah gak ada, Fin. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi. Kalau kamu pikirin terus, yang ada malah kamu sakit lagi. Fokus saja pada dirimu sendiri,"
"Kakak ga tahu, seberarti apa Aurel dalam hidupku," tiba-tiba ekspresi Fino pun semakin sedih, Meylani menghela napasnya perlahan.
"Kamu menyukainya ya?" Tanya Meylani yang mulai penasaran, Fino mengangguk pelan.
"Tapi semua sudah terlambat,"
"Kalau suka kenapa gak bilang padanya waktu kalian masih satu sekolah dulu?"
"Aku usah sering menyatakan perasaanku, Kak. Tapi memang Aurel yang selalu menolak, awalnya aku mengira bahwa dia tidak menyukaiku, ternyata karena dia sakit parah sampai akhirnya meninggal seperti ini," Meylani sekarang tahu point kenapa Adiknya itu sangat sedih ketika Aurel meninggal.