Empat hari setelah kunjungannya ke makam Aurel dan membaca kembali surat darinya membuat Fino mengubah pandangan masa depannya. Dan jadwal di hari yang selama ini terus mendekat akhirnya tiba juga, yaitu showcase. Sejak pagi, Fino sudah duduk di kampus dan masih memakai jas praktik kedokteran gigi. Di depannya terbentang lembar ujian praktik akhir semester dan benar-benar manusia, bukan lagi manekin. Tangannya memegang alat dengan tenang dan fokus menjalani yang sekarang lebih dulu meskipun malam nanti Ia harus berdiri di panggung terbesar dalam hidupnya.
“Nervous?” Suara Nadia terdengar dari samping, Fino menoleh, Ia sedikit tersenyum.
“Iya dikit doang sih, hehe,”
“Dikit katanya,” Kevin langsung menyela.
“Muka lo udah kayak orang mau nikah, tahu.” Satu kelompok langsung tertawa. Dan untuk pertama kalinya setelah kematian Aurel Fino ikut tertawa meskipun tidak lama dan cukup membuat teman-temannya lega. Karena mereka akhirnya melihat sedikit sosok Fino yang dulu kembali lagi di hari ini.
Praktik berjalan lancar, tidak ada kendala sedikitpun meskipun memang menggunakan pasien asli yaitu anak SD yang giginya berlubang, Fino menangani dengan baik dengan menambal gigi yang berlubang itu dengan hati-hati. Setelah semua selesai, Fino keluar dari ruangan sambil menghela napas panjang.
“Gimana? Lega?” tanya Arvin.
“Ya lumayan sih, kalian sendiri gimana? Malah nanyain aku doang, kan yang praktik kita semua meskipun secara individu," Fino melepas masker yang digunakan untuk praktik menambal gigi tadi.
"Ya bagi kami sih bisa aja karena udah pernah praktik dengan manekin ya sekarang pakai manusia pun bisa,"
“Oh iya, setelah ini kamu langsung ke showcase, Fin?” Tanya Nadia.
"Masih nanti malam showcasenya kok," Sahut Fino, Nadia langsung tersenyum.
“Kalau nanti terkenal jangan lupa sama kami ya, Fin,”
“Gak ah, aku akan melupakan kalian semua, wle," sahut Fino dengan menjulurkan lidahnya, seperti sedang menggoda teman-temannya.
“WOI! Fin, ga bisa gitu lah, masa kau... wahh... parah banget ih.” Sahut Nadia kesal, mereka semua tertawa.
"Ya gak lah, hanya kalian teman yang selalu ada disaat aku jatuh dan sampai sekarang kalian selalu di dekatku." Mereka pun merasa terharu dan memeluk Fino, dan disaat seperti itu, Fino merasa hidupnya kembali normal seperti biasanya.
Sore harinya, Fino pulang kuliah dan langsung ke cafe Kakaknya yaitu, Cafe Smile. Tempat yang selama ini menjadi tempat pulang Fino ketika dunia terasa terlalu berat, Meylani sedang membereskan meja ketika Fino masuk, masih membawa tas kampus dan tentunya terlihat lelah. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di wajahnya.
“Kakak,”
“Hm?”
“Aku tadi praktiknya langsung dengan bocah tahu, untungnya aku bisa. Semua udah selesai, jujur aku masih deg-degan banget, tahu," kata Fino. Meylani langsung tersenyum bangga.
“Bagus dong, sedikit lagi kamu akan lulus dan mendapat ijazah, iya kan?” Fino duduk di kursi dekat jendela, Dan Chanchan langsung berlari menghampirinya.
“Tinggal bikin skripsinya, sidang, revisi, terus lulus deh. Heyy... Chanchan sini...” Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya, Fino tertawa kecil sambil mengusap kepalanya. Meylani memperhatikan dari jauh, lalu bertanya pelan.
“Apakah kamu udah siap untuk showcase nanti malam?” Fino menghela napasnya berat, Ia terdiam cukup lama kemudian mengangguk.
“Aku rasa iya.” Meylani berjalan mendekat, kemudian menepuk pundaknya pelan.
“Kalau Aurel ada di sini...” Fino langsung menoleh, Meylani tersenyum kecil.
“Dia pasti bangga.” nama itu tidak lagi membuat Fino runtuh. Masih sakit. Tetapi tidak menghancurkannya. Karena sekarang ia mulai belajar menerima kenyataan itu.
.
Malam hari pun tiba, Gedung showcase dipenuhi penonton. Lampu panggung menyala terang. Suara orang-orang memenuhi ruangan. Di balik panggung, Fino berdiri diam. Jantungnya berdegup sangat cepat. Bahkan lebih cepat daripada saat ujian praktik. Produser menghampirinya.
“Apakah kamu gugup malam ini?”