Di sebuah kediaman di ujung jalan, yang terletak di dalam gang kecil di luar kota.
Tiga hari kemudian.....
Angin malam berhembus seperti suara tarian pedang, tajam dan mengiris hingga ke tulang. Suara desir yang menerpa dedaunan rumpun bambu di halaman belakang seperti bisikan hantu dunia bawah, yang menarik manusia ke dalam kegelapan.
Di balik tirai kelambu berwarna merah muda, seorang gadis muda yang di penuhi luka terbaring dengan tatapan kosong di atas ranjang kayu mahoni yang di ukir dengan teliti dan sangat indah.
Qin Yanyue baru saja bangun dari koma, melihat sekeliling dan tiba-tiba merasa sedikit cemas di hatinya. Dia tidak tahu di mana dia sekarang, tetapi sangat jelas bahwa dia tidak kembali ke kehidupannya di masa depan.
Qin Yanyue mencoba bangkit untuk mencari tahu di mana dia sekarang, namun saat dia bergerak itu akan membuatnya menarik luka di tubuhnya sehingga dia mengernyitkan dahinya karena kesakitan.
Seketika keringat dingin mulai muncul di dahinya, membuatnya tampak sangat lemah dan kasihan.
Tiba-tiba pintu kayu berderit terbuka, seorang pria dengan topeng separuh wajah berwarna perak masuk ke dalam kamar, di ikuti seorang pria paruh baya yang membawa kotak obat.
Pria itu menggunakan pakaian berwarna hitam dengan pola sulaman awan keberuntungan di jubah hitamnya yang di jahit dengan benang emas pada tepian polanya.
Pria itu perlahan berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, matanya yang gelap seperti obsidian, dalam seperti lautan bintang tak berujung, menatap Qin Yanyue dengan rasa engan, tidak rela dan sayang yang tidak di tutupi sama sekali.
Pria itu menggenggam tangan Qin Yanyue yang mungil dan sedingin es, berkata dengan suara yang dalam dan magnetis. " Apa kabar? Apakah ada yang tidak nyaman? "
Pria itu menuangkan teh kedalam cangkir dan mendekatkannya ke bibir merah pucat Qin Yanyue. " Minumlah sedikit, untuk melembabkan tenggorokan. Lalu biarkan tabib memeriksa mu."
Qin Yanyue terkejut melihat pria di hadapannya. Namun dia tidak menolak sama sekali, menyesap sedikit teh yang di tawarkan pria itu. Rasanya hangat sedikit pahit dengan sedikit rasa manis di akhir.
Pria itu meletakkan cangkir teh di tangannya ke atas meja. Lalu berdiri dan mundur, memberi ruang pada tabib tua untuk memeriksa luka Qin Yanyue.